Mengenali Kepribadian untuk Berkembang Lebih Baik

Jumat, 19 Juli 2013 WIB |
1203 kali | Kategori: Psikologi Keluarga


Bergaul dengan banyak orang akan memperkaya warna hidup kita. Si A lembut menenangkan, si B pandai berkata-kata, si C hidup seperti di dalam pesta –glamor,selalu ceria dan tanpa beban– sementarasi D pandai mengatur dan mengarahkan. Jangan tanya mana yang lebih baik, tapi tanya bagaimana kita bisa menjadi yang terbaik dalam apapun kondisi kita.

Pengertian kepribadian dicoba uraikan oleh psikolog Indra Sakti sebagai kesatuan antara jiwa dan badan seseorang dalam memberikan respon atas setiap rangsang lingkungan yang diterima. Itu sebabnya kita bisa melihat ada orang yang kecenderungan reaksinya dalam menghadapi lingkungan tanpa banyak bicara. Sementara yang lain justru dengan banyak bicara. Ada pula orang yang cenderung lebih menarik diri di dalam interaksi dengan orang lain, sementara ada orang yang lebih mudah berinteraksi dengan orang lain, dan banyak lagi.

Kekhasan perilaku ini sesungguhnya merupakan penerjemahan dari bagaimana seseorang melakukan proses adaptasi, memanipulasi lingkungan, serta menyikapi sesuatu, yang didasari oleh keinginan-keinginan, cara berpikir, maupun perasaan seseorang.

Berangkat dari banyak pendekatan

Berangkat dari aneka warna kepribadian manusia ini banyak ilmuwan terdorong meneliti dan mengembangkan bermacam teori kepribadian, hingga menghasilkan tipologi-tipologi kepribadian. Kalau dikumpulkan secara umum, setidaknya ada empat macam pendekatan dalam memandang kepribadian manusia, yaitu pertama berdasarkan struktur kepribadian, kedua berdasarkan emosi, perasaan atau temperamen, ketiga berdasarkan kebutuhan atau motivasi, dan keempat berdasarkan cara berpikir seseorang.

Lebih lanjut Indra menjelaskan, ilmuwan yang mendalami penelitian kepribadian manusia dari sisi struktur, melihat bagaimana sih sesungguhnya struktur kepribadian terbangun.  Sebutlah Sigmund Freud yang paling terkemuka dalam ranah ini sehingga kita mengenal istilah alam bawah sadar, alam sadar, dan alam sub sadar.

Dalam ranah ini ditelitilah bagian mana yang paling mempengaruhi tindakan-tindakan manusia hingga ditemukan bahwa yang paling banyak memengaruhi tindakan manusia justru kondisi alam bawah sadar. Maka berkembanglah kemudian teori hipnotis, di mana manusia bisa dipengaruhi bawah sadarnya sehingga dia bisa bertindak seperti perintah bawah sadar.

Yang membuat teori kepribadian berangkat dari pengamatan sudut temperamen atau kualitas emosional, melihat bahwa kondisi temperamen bersifat fluktuatif. Maka disebutlah istilah temperamen atas seperti periang atau mudah marah, serta temperamen bawah seperti pendiam dengan reaksi emosial dingin-dingin saja.

Dari rentang ini kemudian dilihat mana-mana perasaan atau temperamen yang lebih dominan pada seseorang. Ada orang yang lebih dominan pada perasaan-perasaan positif sehingga tampak bergairah, ceria atau meledak-ledak. Sebaliknya ada orang yang lebih dominan pada perasaan-perasaan negatif, seolah melihat dunia dalam sisi yang suram, sehingga dia cenderung murung, diam atau nampak sedih.

Ada juga teori kepribadian yang dikembangkan dengan mendasari pengamatan atas kebutuhan manusia seperti yang dilakukan McLelland, yang mengatakan kebutuhan manusia secara umum pada dasarnya ditipologikan ke dalam 3 kelompok, ada need for achievement—keinginan untuk meraih prestasi, need for power—keinginan untuk berkuasa, dan need for affiliation—keinginan untuk bersosialisasi.

Dalam ranah ini pula akhirnya berkembang Teori Maslow yang terkenal dengan jenjang kebutuhannya di mana pada tingkat paling rendah tertera keinginan manusia untuk memenuhi  kebutuhan paling dasar yaitu kebutuhan fisiologi, sementara pada jenjang tertinggi adalah kebutuhan untuk terpenuhinya aktualisasi diri.

Pendekatan keempat memandang apa yang mempengaruhi cara orang bereaksi terhadap lingkungan adalah cara berpikir. Maka dikenal lah istilah locus of control pada diri manusia yang terbagi atas locus of control internal (LCI), dan locus of control external (LCE).

Pada manusia bersosok LCI dia dikatakan cenderung berpikir bahwa segala sesuatu yang terjadi pada dia memang tanggung jawabnya. Tak lulus ujian, gaji tidak kunjung naik misalnya memang karena tanggung jawabnya. Tidak belajar lebih keras, atau karena  memilih kerja di tempat itu dan bukan di tempat lain.

Sementara manusia LCE cenderung berpikir sebaliknya bahwa segala sesuatu terjadi justru karena sebab luar.  Kenapa kamu begini?  Karena saya terpaksa. Kenapa tidak berprestasi di sekolah? Soalnya gurunya nggak enak ngajarnya…

 Siapa atau bagaimana saya?

Hanya dari empat pendekatan itu saja kemudian bermunculan banyak tipologi kepribadian yang kerap dipakai untuk menentukan tipe kepribadian seseorang, baik di dunia sekolah atau di dunia kerja. Ada orang membagi tipe-tipe kepribadian berdasarkan empat golongan utama, sembilan golongan utama, 16 golongan utama hingga 64 golongan utama. Bahkan, beraneka media pun kerap menyajikan kuis-kuis yang menarik untuk diikuti para konsumennya. Mungkin ini memang disebabkan manusia memiliki keingintahuan yang tinggi akan dirinya sendiri, who am i?

“Soal who am I,  siapa sih saya, itu sebenarnya menarik bagi para remaja, untuk usia 13-20 tahunlah. Istilahnya itu adalah fase-fase mencari jati diri. Saya ini siapa sih, saya ini gimana sih? Itu bagi mereka penting, dalam rangka mengajak memantapkan pola reaksi mereka terhadap sesuatu, sebagai basislah  buat dia menjalani hidup. Bahwa saya ini memang berbeda dengan orang lain, untuk memunculkan individuasinya, kediriannya, bahwa ini lho, saya,” terang Indra.

Namun bagaimana kalau kita saat ini sudah menjadi sosok dewasa? Pekerja misalnya, atau ibu rumah tangga? Dengan tuntutan sosial yang semakin banyak, tuntutan lingkungan semakin banyak, kita harus berprestasi dalam pekerjaan, yang untuk itu banyak pula syaratnya, perlu ini perlu itu. Maka persoalan pada periode dewasa ini justru berfokus pada bagaimana kita bisa menjalani dengan sebaik-baiknya saat dihadapkan oleh berbagai tuntutan, tuntutan apapun, tuntutan sosial, tuntutan pekerjaan, tuntutan keluarga, pribadi dan lain-lain.

“Jadi, katakanlah bagi Anda yang sudah berusia 25 thn dan masih bertanya, Pak, sebenarnya saya ini gimana sih?’ jawaban saya adalah: Buat apa mikir itu sekarang? Anda sudah dihadapkan pada kehidupan yang riil, kehidupan yang nyata, tuntutan dunia akhirat, tanggung jawab segala macam, persoalan Anda bukan apakah tuntuan itu sesuai dengan Anda. Persoalan Anda adalah bagaimana memenuhi tuntutan itu!” tegas ayah empat anak kelahiran Jakarta 45 tahun lalu ini.

Meski demikian, Indra Sakti tidak menampik bahwa pengenalan akan tipe-tipe kepribadian berdasarkan beragam tipologi ini ada manfaatnya. “Kita bisa mengenali kelebihan dan kekurangan diri kita, berdasarkan misalnya cara kita berpikir, bagaimana kita cenderung merasa, apa yang cenderung kita butuhkan, dan lain-lain.”

Namun, pimpinan Insani Consulting ini lantas mengingatkan pada kita untuk tidak terpenjara pada setiap hasil pemetaan tipe kepribadian ini sebab menurutnya, yang terpenting dalam hidup ini pada akhirnya bukan sekadar mengetahui kita ini bagaimana di dalam menjalani hidup melainkan bagaimana kita ini menjalani hidup.

 Bukan identitas baku

“Dengan mengikuti tes-tes kepribadian ini, kita bisa menemukan kelebihan, bisa menemukan kekurangan. Namun yang patut dicamkan, kita perlu penyikapan yang benar soal hasilnya,” kata Indra seraya mengingatkan akan pentingnya selalu bersikap positif dalam memandang kepribadian diri. 

Soal individuasi (proses menjadi individu atau seseorang) yang bisa diperoleh saat kita menemukan bahwa diri kita cocok pada satu tipe kepribadian tertentu misalnya, akan sangat berguna ketika kemudian orang bersikap positif terhadap dirinya, tetapi menjadi tidak berguna bila individuasi itu justru disikapi negatif, ‘oh saya ini ternyata memang banyak kekurangan,  saya ini payah’.

Repotnya lanjut lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini pula, kalau ada orang –atau bisa juga lembaga atau perusahaan- yang terlalu berpegang pada tipologi-tipologi kepribadian secara apa adanya dalam teori.  Misalnya saja,  seseorang yang menyatakan tidak bisa mengikuti tuntutan sesuatu karena yakin –berdasarkan tes kepribadian- hal itu kan tidak sesuai dengan kepribadian saya.

“Orang seperti ini kan sesungguhnya sedang menyempitkan space dia sendiri kan?  Sehingga misalnya ketika ditawari, kamu mau kerja ini gak? Jawabannya: Oh maaf itu bukan bidang saya. Saya nggak cocok di situ.”

Tipe kepribadian adalah kecenderungan-kecenderungan yang umum, bukan sebuah kepastian menetap apalagi identitas diri yang baku. Hasil dari pengelompokkan tipe kepribadian ini sesungguhnya justru berguna untuk menjadi langkah kita selanjutnya dalam memetakan sikap, tindakan dan perilaku dalam hidup. Mana kekuatan kita yang akan dimaksimalkan untuk menghasilkan kinerja terbaik dalam menghadapi rangsang lingkungan, dan mana kelemahan kita yang perlu kita minimalisasi atau kita ubah untuk menghadapi tantangan.

“Jelas beda bila orang berpikir saat mendapat tuntutan, wah ini tidak cocok dengan kepribadian saya, dengan orang yang berpikir bisa gak sih saya memenuhi tuntutan2 itu? apa yang mesti saya lakukan? Sebab kalau kita lebih berpikir untuk berusaha memenuhi segala macam tuntutan yang ada pada hidup kita, dengan itu kita bisa berkembang.”

 

Respon positif untuk semua

Hasil apapun yang diperoleh dari pengelompokan kepribadian diri kita, baik kelebihan atau kekurangan semua bisa direspon secara positif untuk membangun diri dan kehidupan yang lebih baik.  Karena sekali lagi, kata Indra, sesungguhnya di dalam hidup keseharian, yang penting bagi kita adalah bagaimana kita seharusnya bereaksi terhadap  lingkungan kita. Ini berarti, pengelompokkan kepribadian memang menata manusia menjadi individu yang unik, khas dan berbeda-beda namun bukan berarti tidak bisa beradaptasi.

Tentu saja hal ini tidak berarti bahwa manusia bisa berubah secara keseluruhan dan bertolak belakang. Ada hal-hal tertentu yang memang menjadi karakter atau sifat mendasar manusia. Begitu juga kata Indra lagi, manusia memang memiliki kapasitas-kapasitas yang berbeda satu sama lain. Kecerdasan emosional orang ada kapasitasnya, kecerdasan intelektual orang ada kapasitasnya, kecerdasan sosial seseorang pun ada kapasitasnya. Tetapi semua tetap bisa direspon positif untuk mencapai hasil terbaik.

Indra lantas memberi contoh. Tengoklah pada kecerdasan intelektual. Tentu orang yang IQ-nya 120 itu akan mudah belajar, mudah menguasai teori. Orang yang IQ-nya 100, akan punya kesulitan belajar dibanding yang ber IQ 120. Tetapi tidak menutup peluang orang yang IQ-nya 100 pun bisa jadi doktor ketika usahanya keras, sungguh-sungguh dan lebih tekun.

Orang yang ber-IQ 90, tingkat kesulitannya menjadi doktor lebih tinggi lagi dibanding yang IQ-nya 100. Orang yang IQ-nya 80 tingkat kesulitannya semakin lebih dan mungkin memang tidak mampu menjadi doktor. Bisa jadi dia hanya mampu tamat SMA, atau menguasai hal-hal praktis. Orang yang IQ-nya 60 lebih  berat lagi, karena dia hanya sampai pada taraf mampu latih, mampu didik. Sementara orang dengan IQ 50, mampu mengurus diri sendiri itu sudah bagus. Sebab orang dengan IQ 40 misalnya akan menjadi sangat dependen, bergantung pada orang lain.

Okelah, merespon positif segala kelebihan mungkin lebih mudah, tetapi bagaimana untuk merespon positif segala kekurangan?  

“Ingat  saja, ya saya di sini memang belum mampu, tapi belum tentu sekianlah kapasitas saya. Sebab siapa yang tahu kapasitas saya? Karena ukuran kapasitas itu kita nggak tahu terlalu persis. Maka jangan jadikan kekurangan itu sebagai identitas, seakan-akan kekurangan itu tidak akan bisa diperbaiki lagi karena sudah menjadi  identitas. Misalnya, ‘Saya ini memang bawel, udah, terima apa adanya aja.’ Tapi jadikanlah kelebihan itu sebagai identitas. Kalau kekurangan? Kekurangan itu adalah bagian yang masih bisa diperbaiki,” urai Indra lagi.

Perkuat sistem nilai

Selain itu, soal sistem nilai pun punya peran sangat besar. Sebab sistem nilai apa yang tertanam dalam seseorang bisa ikut mendasari bagaimana seseorang itu menyikapi dirinya serta menyikapi lingkungannya. Dan sistem nilai ini bertumbuh seiring bertumbuhnya manusia lewat didikan, sosialisasi orangtua, lembaga pengajaran atau pembinaan lingkungan.

Salah satu sistem nilai ini adalah nilai agama. Pada Islam misalnya, basis sistem nilainya adalah seberapa besar keyakinan seseorang pada Allah, seberapa besar pengetahuan dia dan pemahaman dia terhadap ajaran-ajaran Islam.

Islam telah mengajarkan seseorang untuk menjadi sosok yang optimis dan berkembang. Tengok saja pada doa, apa maknanya kita berdoa kepada Allah?

“Kita berdoa itu kan minta yang baik ya? Artinya kita selalu berharap supaya mendapatkan segala macam kebaikan. Padahal ada takdir, ketentuan yang menetap. Tapi doa juga ada kan? Doa itu untuk apa? Kita berharap takdir yang Allah punya saat ini di esok hari atau di kemudian hari itu berubah menjadi lebih baik. Tapi dengan tetap menerima takdir yang sudah ada sekarang. Menerima takdir kita saat ini bukan berarti kita tidak berharap yang lebih baik untuk hari esok. Kita miskin sekarang, tapi kita kan boleh berdoa untuk menjadi kaya, karena orang yang berdoa menjadi kaya itu bukannya tidak menerima takdir. Begitu pula bila kita memang punya kekurangan sekarang, bukan berarti kita tidak boleh berpikir dan berupaya untuk memperbaiki kekurangan,” kata Indra lagi.

Begitu pula ketika kita dikelompokkan dalam tipologi introvert-ekstrovert, itu bukanlah sesuatu yang terputus, ini kelompok introvert, itu kelompok ekstrovert. Tapi ada orang yang sangat introvert, ada yang sangat ekstrovert, dan ada yang di tengah-tengah.  Bisakah orang yang di introvert itu bergeser? Misalnya dalam skor 0-10, di mana 10 untuk yang paling ekstrovert, 0 paling introvert, lantas seseorang ada di 5 atau 6? Mungkinkah dia bergeser? Jelas mungkin, selama dia berusaha.

Karena itu, tak jadi masalah bila kita mengambil atau mengikuti setiap kuis atau tes kepribadian sebagai bahan pengenalan diri, lalu maksimalkan amalan diri dengan mengukuhkan sisi kuat kita dan meminimalisasi segala kelemahan. Kalau perlu, canangkan perubahan-perubahan agar kita mendapati diri menjadi orang yang beruntung sebagaimana sabda rasulullah saw; sungguh beruntung orang yang (hidupnya) hari ini lebih baik dari hari kemarin. Insya Allah.


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter