Mushalla; yang Diharap, yang Diabai

Rabu, 03 Juli 2013 WIB |
922 kali | Kategori: Ragam


Mukena kotor, bau, ruangan panas dan lembap, sempit, tempat wudhu tidak terawat dan digabung antara laki-laki dan perempuan. Kondisi seperti ini kerap kita temui di mushala-mushala fasilitas umum. Tidak nyaman? Pasti. Namun, adakah rasa keislaman Anda terusik olehnya?

Tuntutan shalat yang wajib dilaksanakan lima waktu dalam sehari membuat kehadiran mushala di fasilitas umum (fasum) sangat vital. Ironisnya, sebagai negara Muslim terbesar di dunia, keberadaan mushala di fasum di kota-kota besar negeri ini amat memprihatinkan.

Marselly Purwaningsih (28), karyawati rumah sakit di Depok, membagi pengalamannya ketika hendak shalat di mushala GOR Slipi, Jakarta Barat. “Sediiihh banget lihat mushalanya. Sempit, tempat wudhu dan shalat campur pria dan wanita. Selain itu, kiblat menghadap ke pintu masuk. Jadi orang lalu lalang di depan orang yang sedang shalat!” tuturnya dengan nada kecewa.

Tak sedikit anggota masyarakat yang peka akan pentingnya mushala yang layak di fasilitas umum. Mereka kecewa tapi tak memiliki saluran untuk menyampaikan kekecewaan tersebut. Sebagian masyarakat malah bersikap sebaliknya, tenang-tenang saja dengan kondisi mushala yang tidak layak. Padahal, menurut Asma Nadia (39), penulis, umat tidak pantas diperlakukan seperti ini. “Banyak mushala yang tidak layak. Anehnya, umat Islam diam saja. Mereka berhak mendapatkan yang lebih baik,” tegasnya

Tak cukup mengeluh dalam hati, Asma berupaya mengonsolidasi keluhan-keluhan masyarakat tentang mushala-mushala yang tidak layak lewat Twitter. Melalui hashtag #cintamusala, Asma berusaha menggalang gerakan sosial demi tersedianya mushala yang layak di fasilitas-fasilitas umum.

 

Mal lebih peduli?

Gerakan yang diusung Asma kurang lebih setahun belakangan nampaknya mulai membuahkan hasil. Meski bukan satu-satunya faktor pendorong namun gerakan #cintamusala telah berkontribusi pada mulai sadarnya pengelola fasum untuk menyediakan mushala yang layak bagi pengunjungnya.

Sebuah lembaga riset marketing, Etnomark Consulting, akhir Juli 2011 lalu di Jakarta, merilis hasil riset yang menarik tentang mushala layak di fasilitas umum. Lembaga ini meneliti sejauh mana para pengelola fasum premium peka akan kehadiran mushala yang layak bagi para pengunjungnya. Walaupun objek penelitiannya terbatas pada fasum premium yang disediakan untuk kalangan menengah ke atas, namun riset ini cukup baik, tersaji secara akademis dengan data yang valid dan reliable.

Fasum premium yang diteliti adalah mal atau pusat perbelanjaan kelas atas, hotel berbintang, rumah sakit bertaraf internasional, restoran mewah dan luas, bandara, perkantoran elite, dan gedung bertingkat.

Sedangkan yang dimaksud dengan mushala layak, atau dalam bahasa penelitian ini disebut dengan 'mushala keren', adalah mushala yang sejak awal dipikirkan sebagai bagian terintegrasi dalam bangunan, seperti halnya sarana lainnya seperti tempat parkir dan toilet. Jadi, ia bukanlah bagian bangunan yang tersisihkan karena baru dipikirkan setelah bangunan berdiri atau bahkan menunggu permintaan pengunjung terlebih dahulu untuk dibuatkan.

Pada temuan umumnya, Amalia E. Maulana, Direktur Etnomark Consulting, menyatakan bahwa mal adalah fasum premium yang relatif lebih peduli pada ketersediaan mushala yang layak bagi pengunjungnya daripada fasum premium yang lain. “Rupanya sekarang mushala sebagai fitur produk pada mal sudah bergeser dari fitur pelengkap (augmented) menjadi fitur yang diharapkan ada (expected),” papar Amalia.

Memang, beberapa waktu belakangan mulai banyak mal yang memikirkan secara serius mushala mereka. Lihatlah bagaimana nyamannya mushala di Senayan City yang memisahkan secara tegas mushala pria dan wanita, ruangan berpendingin, terpisah dari toilet, bahkan tersedia penjaga yang telaten melayani pengunjung yang shalat di sana.

Handaka, CEO Senayan City, mengungkapkan, penyediaan mushala yang layak pada malnya adalah bagian dari pelayanan. “Dengan adanya mushala yang nyaman, semakin betah mereka di dalam mal, semakin baik bagi kami,” ujar Handaka.

Carrefour Lebak Bulus juga belum setahun memiliki masjid yang bisa dipakai untuk shalat Jumat di lantai bawahnya. Masjid berkarpet penuh, AC, hijab, dan tempat wudhu yang higienis, menjadi tempat yang nyaman untuk beribadah di tengah kesibukan. Bahkan, di depan masjid tersedia ruang nursery bagi ibu menyusui.

 

Tingkatkan kepekaan

Kita patut bersyukur terhadap tumbuhnya kepekaan pengelola fasum menyediakan mushala yang layak bagi pengunjung. Tapi tentu saja, banyak hal yang harus dibenahi. Masih banyak mal yang dikunjungi ribuan Muslim setiap harinya tapi belum memiliki tempat shalat yang layak.

Menurut Asma, beberapa mal yang sering dikeluhkan oleh teman-teman di Twitter antara lain, ITC Kuningan dan Ambasador. Bahkan, tambah Asma, di salah satu pusat perbelanjaan di kawasan Margonda, Depok, ada mushala yang pintunya dikunci. Jadi, setiap hendak shalat di sana Asma harus menghubungi satpam agar pintu mushala dibuka. “Itu karena saya tahu caranya begitu. Kalau pengunjung lain yang nggak tahu bagaimana?” ungkap pendiri Rumah Baca Asma Nadia ini.

Patut kita sadari, menyalahkan pengelola fasum saja bukanlah solusi. Perlu ada gerakan bersama dari umat Islam. Saatnya umat untuk sadar dan menyuarakan hak mereka atas mushala yang layak di semua fasilitas umum.

Ketersediaan mushala yang layak, bersih dan terawat, adalah prasyarat mutlak agar shalat bisa ditunaikan dengan baik. “Kita mengapresiasi pengelola fasum yang sudah menyediakan mushala layak. Dan kita desak terus pengelola fasum yang belum menyediakan mushala yang layak,” pungkas Asma.


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter