Mengenang Uje, Melanjutkan Semangat Dakwahnya

Jumat, 26 April 2013 WIB |
4406 kali | Kategori: Mutiara Dakwah


Pagi itu kru Ummi menuju rumah Uje untuk melakukan pemotretan cover Ummi. Nama Uje sangat dikenal di komplek rumahnya, sehingga memudahkan kami saat nencari lokasi rumah beliau. Dan sesuai janji, tepat jam 8 kami sampai di rumah Uje-Pipik yang teduh dan asri.

"Maaf, ya, Uje baru bisa dipotret setelah dzuhur. Saat ini beliau masih tidur karena tadi baru sampai rumah jam 3 dini hari," kata Pipik.

Rupanya hampir setiap hari agenda Uje padat. Banyak syuting iklan yang dilakukan sejak sore hingga tengah malam. Belum lagi pertemuan dengan komunitas, organisasi atau personal yang terkadang sampai dini hari.

"Meski begitu Uje selalu punya waktu untuk keluarga. Minimal shalat subuh berjamaah. Terkadang juga mengecek hafalan qur'an anak-anak," tambah Pipik.

Dan benar, setelah shalat dzuhur Uje sudah kembali bugar dan menyambut kami ramah.

"Banyak yang bertanya, kenapa, sih, ustadz, kok, pake motor gede (moge)?" kata Uje.

Lalu Uje bercerita bahwa ada banyak komunitas anak muda yang jauh dari dakwah Islam. Salah satunya, komunitas moge. Mereka juga anak-anak muda yang sesungguhnya memiliki bibit-bibit kebaikan. Namun belum ada yang mendekati dan mendakwahi mereka.

Untuk mendekati anak muda seperti itu, tambah Uje, salah satu caranya dengan memakai sarana yang mereka akrab dengannya.

"Waktu melihat saya datang, mereka bertanya:' Eh, ustadz bisa juga naik moge? Mau juga, nih, gabung sama kita-kita?'," ujar Uje menirukan komentar salah satu pemuda di komunitas moge yang dibinanya.

Dari situ Uje masuk dan mulai berdakwah pada mereka. Saat motoran bareng dan tiba waktu shalat, mereka mampir di masjid untuk shalat berjamaah. Lalu mereka juga sering mengobrol ringan seputar masalah anak muda. Dengan interaksi yang santai Uje berusaha mendakwahi anak-anak muda tersebut.

Pilihan metode yang diambil Uje ini tidak terlalu populer. Karena itu ia banyak dikritik serta dianggap membuang-buang waktu dan uang. Menyikapi hal ini, Uje santai aja, malah menganggap positif.

"Kita justru butuh masukan dan kritikan. Karena dengan begitu kita bisa introspeksi dan selalu memperbaiki diri," ucapnya.

Uje menyadari sepenuhnya bahwa sebagai tokoh publik segala tindak tanduknya akan dinilai orang. Selain itu 'gelar' sebagai da'i memang menuntut agar ia selalu bisa menjadi contoh dalam melakukan kebaikan. Disinilah pentingnya selalu memohon pada Allah, tutur Uje, agar Dia selalu menjaga niat dan menjauhkan kita dari perilaku yang menyimpang dari syariat.

Waktu makin siang, Uje mengajak kami makan bersama. Kami lalu duduk melingkar, makan nasi bebek dan melanjutkan obrolan. Uje meminta kecap pada Pipik. "Sambalnya mantep banget, biar tidak kepedesan saya biasa campurkan sambalnya dengan kecap,"kata Uje sambil mempersilakan kami menyantap makanan.


Seusai menghabiskan nasi bebek yang lezat kami disuguhi durian montong dengan daging yang tebal dan lembut. 
Uje merupakan pribadi yang ramah dan hangat. Ia mudah menyesuaikan diri dengan lawan bicaranya. Tak heran jika sosoknya mudah diterima di semua kalangan.

Kenangan demi kenangan langsung hadir saat pagi ini kami terima informasi mengenai kepergian beliau menghadap Allah Swt. Uje sosok yang salih insya Allah. Semoga saat pagi ini beliau dipanggil, dalam keadaan khusnul khatimah.

Selamat jalan ustadz Jefri Al Bukhori. Semoga kami bisa mengikuti jejak langkahmu menjadi da'i yang senantiasa mengajak pada kebaikan dimanapun kami berada. Aini Firdaus.

 

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter