Kenapa Sulit Menerima Nasihat

Rabu, 24 April 2013 WIB |
2698 kali | Kategori: Psikologi Keluarga


Tidak ada orang yang selalu benar. Maka nasihat atau masukan dari orang lain pun selayaknya diterima dengan lapang dada. Namun, tak semua orang mudah menerima nasihat dari orang lain.

 

 

Tak hanya satu dua kali kita mendapati seseorang yang dekat dengan kita—entah keluarga atau sahabat—melakukan sesuatu yang menurut norma itu dianggap salah. Secara naluriah, kita selalu ingin untuk memperbaiki kesalahan tersebut dengan sebuah teguran atau nasihat. Tapi, alih-alih menerima masukan, tak jarang mereka yang melakukan kesalahan malah marah dan balik menyerang kita. Kenapa begitu?

 

TIDAK AMAN, TIDAK NYAMAN

Dra Lukna Harini Husni, Psi, konsultan pada Biro Psikologi Dwipayana, Jakarta, menengarai faktor ketidakamanan dan ketidaknyamananlah yang menjadi sebab utama seseorang sulit menerima nasihat atau masukan dari orang lain. “Pada dasarnya manusia membutuhkan rasa aman dan rasa nyaman. Sementara, masukan dari orang lain dapat dikatakan ‘mengancam’ rasa aman itu,” jelas Lukna.

Kondisi ini bisa dimaklumi. Bagaimanapun seseorang akan melakukan sebuah tindakan yang sudah dianggap benar olehnya, berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya selama ini. Tapi ternyata apa yang dilakukan itu tak berkenan atau dianggap salah oleh orang lain hingga orang tersebut spontan memberikan nasihat kepadanya. Bahkan, kita pun bisa merasakan rasa nyamannya yang terusik, mungkin harga dirinya yang terjatuhkan, dan dia langsung menunjukkan reaksinya. “Bisa langsung bereaksi secara verbal atau dengan kata-kata untuk membela diri, atau bisa juga melalui mimik wajah yang menunjukkan rasa tidak senang,” ungkap lulusan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Bandung, ini memberi contoh.

Memang, sebagian orang bisa berlapang dada terhadap masukan orang lain. Namun, sebagian lagi tak mudah menerimanya. Hal ini tak terlepas dari pola asuh dan latar belakang seseorang. “Pola asuh berperan untuk membiasakan seorang anak menerima umpan balik atas apa yang dilakukannya. Cara orangtuanya memberikan nasihat atau masukan kepada anak akan memengaruhi sikap anak dalam menerima nasihat orang lain saat ia dewasa,” papar Lukna.

Kondisi-kondisi seperti inilah yang bisa terjadi pada orang yang sulit menerima masukan dari orang lain. Hingga seseorang yang ingin memberi masukan bisa mencari cara yang baik dalam memberi nasihat. 

             

NASIHAT YANG MENGENA

Dalam memberikan masukan atau umpan balik, pemberi nasihat semestinya melakukan dengan cara dewasa yang mengutamakan objektivitas, dengan memanfaatkan fakta dan data, serta sikap menghargai. Langkah-langkah yang disarankan Lukna sebagai berikut:

  • Menghargai dan memberikan pujian atas hal-hal positif yang telah dilakukan si penerima nasihat. Hindari sikap menghakimi atau mencela. Ini bisa dilakukan kalau kita sudah memahami alasan atau pemikirannya hingga ia melakukan suatu tindakan tertentu.
  • Menunjukkan hal-hal yang masih perlu ditingkatkan. Sebaiknya lakukan dengan cara diskusi hingga tercapai pemahaman di antara kedua belah pihak. 
  • Lalu, berikan dukungan untuk hal-hal yang perlu diperbaikinya. 

 

Perlu pula si pemberi nasihat meluruskan niatnya. Nasihat yang diberikan hendaknya benar-benar didasarkan atas ketulusan hati dan keinginan memperbaiki, bukan sekadar ingin menjatuhkan seseorang. Orang yang diberi masukan tentu dapat merasakan nuansa ini, hingga memengaruhi dirinya dalam menanggapi sebuah masukan.

Lukna pun menyarankan agar seorang pemberi nasihat bisa melihat situasi dan kondisi seseorang, siap atau tidak menerima nasihat. “Biasanya seseorang akan lebih mudah menerima masukan bila ia sedang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Dalam kondisi ini ia membutuhkan bantuan atau masukan dari orang lain."

Dia juga mengingatkan, walaupun orang tengah membutuhkan nasihat kita, tetaplah memberi nasihat yang membuatnya tetap mandiri. Jangan memberikan nasihat yang menyebabkan seseorang menjadi tergantung pada kita. “Pemberian masukan dengan cara diskusi, berbicara dengan data dan fakta, merupakan cara yang tepat,” tegas Lukna.

 

Siap Menerima Masukan

 

Sebenarnya, nasihat atau masukan dari orang lain amat berguna untuk menambah wawasan dan memperbaiki diri bagi keberhasilan di masa depan. Lalu, bagaimana sebaiknya kita menanggapi masukan dari orang lain?

  • Jangan langsung bersikap negatif, seperti marah atau menyerang balik. Namun, jangan juga langsung bersikap pasrah dan kalah dalam menanggapi masukan dari orang lain karena sikap ini menunjukkan ketidakpercayaan diri. Dengarkan saja dan kemudian kita bisa menilai dengan hati tenang dan penuh kesadaran apakah masukan yang diberikan itu valid dan berguna buat kita.
  • Kalau memang masukan itu benar, terimalah sebagai sebuah perbaikan. Namun, jangan merasa bersalah secara berlebihan.
  • Bicara dengan si pemberi nasihat alasan kita melakukan sesuatu disertai data, sehingga pemberi nasihat paham dan memberi masukan yang tepat sesuai kebutuhan kita. 

 

 

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter