Amalan Penyebab Masuk Surga

Selasa, 05 Februari 2013 WIB |
2238 kali | Kategori: Kajian Hadits


Hadits Arba'in Nomor 29

(Bagian Pertama)

 

Dari Muadz ra, ia pernah berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku amal apa yang menyebabkan diriku masuk surga dan terjauhkan dari neraka?”

Rasulullah saw bersabda, “Sungguh engkau telah menanyakan sesuatu yang besar, dan sesungguhnya hal itu adalah mudah bagi yang dimudahkan Allah swt. Engkau menyembah Allah swt dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya, engkau menegakkan shalat, engkau membayar zakat, engkau berpuasa Ramadhan dan engkau pergi haji ke Baitullah.”

Lalu beliau saw bersabda, “Maukah kamu aku tunjukkan kepada berbagai pintu kebaikan? Puasa adalah perisai, sedekah memadamkan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam hari.” Setelah itu Rasulullah saw membaca QS As-Sajdah [32]: 16 – 17.

Kemudian beliau saw bersabda, “Maukah kamu aku beritahukan tentang kepala dari semua urusan ini dan tentang tiang serta puncaknya?” Saya (Mu’adz ra) menjawab, “Mau, wahai Rasulullah.” Maka beliau saw bersabda, “Kepala dari semua urusan ini adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad.”

Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Maukah aku beritahukan kepadamu tentang kunci semua ini?” Saya (Mu’adz ra) berkata, “Mau, wahai Rasulullah saw.” Maka Rasulullah saw memegang lidahnya, beliau bersabda, “Tahan ini!” Saya (Mu’adz ra) berkata, “Wahai Nabi Allah, adakah kita terhitung berbuat dosa dikarenakan apa yang kita bicarakan?” Maka Rasulullah saw bersabda, “Ibumu kehilangan dirimu wahai Mu’adz, tidakkah banyak manusia terjerumus mukanya di dalam neraka dikarenakan lidahnya” Atau “Bukankah hidung manusia terjerembab ke dalam neraka dikarenakan jeratan-jeratan lidahnya?” (HR At-Tirmidzi dan ia mengatakan hadits ini hasan shahih).

 

Takhrij dan Kedudukan Hadits

Hadits Arba’in Nawawiyah ke-29 ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, pada kitab Musnad Al-Anshar, bab hadits Mu’adz bin Jabal ra. Juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, pada kitab Al-Iman, bab ma ja-a fi hurmat ash-shalati, hadits no. 2616. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Majah pada kitab Al-Fitan, bab kaff al-lisan fi al-fitnah, hadits no. 3973.

Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini sebagai hadits hasan shahih. Dan Syekh Nashiruddin Al-Albani juga menilainya sebagai hadits shahih lighairihi (lihat: Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, hadits no. 2866).

Syekh Nazhim Sulthan berkata, “Hadits ini berbicara tentang sebab-sebab seseorang masuk surga dan terjauhkan dari neraka. Perkara ini merupakan sebuah urusan agung dan besar. Untuk urusan inilah Allah swt mengutus para rasul dan menurunkan kitab suci. Dan demi urusan inilah para nabi Allah menanggung beban derita perjuangan yang sangat berat disertai berbagai kesulitan.”

 

Kandungan Hadits

Secara garis besar hadits Arba’in Nawawiyah ke-29 ini memuat pelajaran-pelajaran sebagai berikut:

1. Semangat para sahabat nabi radhiyallahu ‘anhum untuk mempersiapkan diri dengan berbagai amal agar dapat memasuki surga dan terhindar dari neraka. Karena itulah mereka tidak segan-segan menanyakan hal tersebut kepada Rasulullah saw.

2. Urusan surga dan neraka adalah urusan agung, bukan perkara sepele atau remeh. Karenanya, setiap Muslim hendaklah menempatkan masalah itu sebagai inti perhatiannya dalam kehidupan di dunia ini.

3. Bahwa amal saleh dan segala bentuk ketaatan adalah modal utama untuk mendapatkan rahmat Allah swt sehingga seseorang dapat memasuki surga-Nya.

4. Amal saleh dan segala bentuk ketaatan itu sendiri merupakan salah satu wujud dari rahmat Allah swt kepada manusia.

5. Bahwasanya amal saleh yang menjadi modal utama seseorang untuk mendapatkan rahmat dan surga Allah swt mempunyai banyak pintu. Secara umum, amal saleh itu dapat digolongkan sebagai berikut:

a. Amalan-amalan fardhu yang seseorang tidak boleh mengabaikannya sama sekali, seperti shalat, zakat, puasa dan haji.

b. Amalan-amalan sunah, di mana seseorang sangat dianjurkan untuk melakukannya agar semakin mendekatkan dirinya kepada Allah swt, seperti puasa sunah, sedekah, shalat malam dan sebagainya.

6. Kepala dari segala urusan dalam hal ini adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad fi sabilillah.

7. Bahwasanya lidah memegang kunci sangat penting dalam urusan surga dan neraka ini. Siapa yang mampu mempergunakannya dalam kebaikan, surgalah baginya. Namun, perlu diketahui juga, banyak orang terjerat ke dalam neraka dikarenakan lidahnya.

Oleh karena itu, kunci dalam hal ini adalah lebih dominan menahan lidah daripada membebaskannya untuk berbicara.

 

 

 

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter