Fidyah untuk Orang yang Sudah Meninggal

Selasa, 20 November 2012 WIB |
7363 kali | Kategori: Fikih Wanita


Assalamu’alaikum,

Bu Herlini, banyak pertanyaan yang ingin saya ajukan seputar fidyah.

  1. Sebenarnya pembayaran fidyah itu untuk apa saja?
  2. Berapa ukuran fidyah? Bisakah dibayar dengan uang? Berapa jumlahnya?
  3. Apakah fidyah juga harus dibayarkan atas utang-utang puasa orang yang meninggal? Bagaimana cara kita membayarkannya? Lalu bagaimana pula bila kita tak tahu berapa utang puasa yang belum dibayar almarhum atau almarhumah? Bisakah dikira-kira saja?
  4. Karena kekurangpahaman saya, beberapa tahun terakhir pada bulan Ramadhan saya selalu membayarkan fidyah berupa uang semampu saya untuk utang puasa nenek saya. Saya tak tahu berapa hutang puasa yang belum dibayar nenek. Saya ingin dosa-dosa nenek saya diampuni Allah. Apakah tindakan saya benar? Atau sebaiknya saya gunakan uang untuk fidyah itu sebagai sedekah atas nama nenek saya? Sampaikah pahalanya?

Wassalamu’alaikum.

 

Farah, Pondok Aren

 

Jawaban

Untuk jawaban dari pertanyaan a dan b dijelaskan dengan uraian sebagai berikut: 

Arti dan hukum fidyah

Fidyah adalah denda atau tebusan yang dilakukan oleh seorang muslim karena ia telah melakukan kesalahan-kesalahan tertentu dalam ibadah. Hukum fidyah adalah wajib sebagaimana dalam QS al-Baqarah: 184 “...Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan satu orang miskin...”                                                                                                                                                     

 

Ukuran fidyah

Fidyah yang harus dibayar ialah memberi makan seorang miskin untuk satu hari puasa yang ditinggalkan. Tidak diterangkan dalam al-Qur’an atau Hadits tentang ukuran banyak atau sedikitnya fidyah itu, yang ditentukan hanya memberi makan orang miskin. Memberi makan seorang miskin itu apakah untuk satu kali makan atau satu hari makan, apakah makanan tersebut yang sudah dimasak atau yang belum dimasak. Oleh karena itu para fuqoha berbeda pandangan dalam menentukan ukurannya. Yang pasti menurut jumhur, fidyah berupa satu mudd makanan yang mengenyangkan untuk setiap hari.

Mazhab Hanafi berpendapat ukuran fidyah sebanyak setengah sha’ biji gandum atau satu sha’ untuk makanan pokok selain gandum atau uang senilai itu. Sementara Ibnu Qudamah al-Hambali berpandangan bahwa ukuran fidyah adalah memberi makan orang miskin sebesar satu mudd gandum atau setengah sha’ kurma. (Sha’ adalah ukuran yang digunakan oleh orang Arab sejak zaman dahulu, yaitu 3 1/3 liter = 2,15 kg. Sedangkan mudd adalah ukuran berat 625 gram).

Jadi fidyah dengan memberi makan seorang miskin itu bisa dengan memberi makan untuk sekali makan yang sudah dimasak atau belum, dan bisa juga memberi makan seorang miskin untuk satu hari makan (jika di bulan Ramadhan maka dapat dihitung makan sahur dan berbukanya).

Karena fidyah ini tidak ditentukan secara detail dalam al-Qur’an maupun Hadits, hanya prinsipnya memberi makan seorang miskin untuk setiap satu hari tidak berpuasa, maka cara yang lebih baik dan aman tentu saja membayar fidyah dengan melakukan yang paling bermanfaat bagi orang miskin tersebut. Jika yang bermanfaat bagi orang miskin yang sudah berkeluarga memberikannya beras maka dapat diberikan kepadanya beras, atau bisa juga nilai makanan kita yang diuangkan kemudian dibelikan beras atau dapat juga memberi orang miskin dari makanan yang sudah dimasak bagi yang belum berumah tangga. Pemberian uang kepada orang miskin dengan senilai harga makanan atau harga beras untuk fidyah sebaiknya dihindari apabila kita tidak yakin terhadap orang miskin tersebut apakah yang akan dibelikannya itu makanan kebutuhannya. Dalam kasus tertentu ada yang membeli bukan makanan, melainkan rokok, mainan anak-anaknya dan lain-lain yang merupakan bukan kebutuhan pokoknya.   

Al-Qur’an dan Hadits juga tidak menerangkan tentang teknis mengeluarkan fidyah, apakah harus tiap hari atau bisa sekaligus. Oleh karena itu fidyah bisa dibayar saat seseorang tersebut tidak berpuasa dan bisa juga dibayarkan sekaligus untuk beberapa hari sebanyak hitungan hari ia tidak berpuasa.

 

Penyebab fidyah                                                                                                                                                      

Orang-orang yang diharuskan membayar fidyah adalah:

  1. Orang yang sangat tua dan tidak mampu lagi berpuasa.
  2. Orang yang sakit parah dan kesembuhannya tidak bisa diharapkan lagi.
  3. Orang yang apabila berpuasa akan membuatnya menderita kesulitan yang sangat berat, seperti orang yang mencari nafkah dengan bekerja berat (misalnya pekerja tambang) dan tidak memungkinkannya untuk mengqodho’ puasanya.
  4. Menurut jumhur ulama selain mazhab Hanafi, fidyah juga diwajibkan bersamaan dengan qodho kepada perempuan hamil atau menyusui yang tidak berpuasa pada bulan Ramadhan karena mengkhawatirkan anak atau janinnya. Sedangkan mazhab Hanafi berpendapat bahwa perempuan hamil atau menyusui tidak diwajibkan mengeluarkan fidyah, hanya wajib qodho’ puasa saja.   
  5. Menurut jumhur ulama selain mazhab Hanafi, fidyah bersama qodho’ juga diharuskan kepada orang yang meremehkan pengqodhoan puasa Ramadhan. Misalnya orang yang belum mengqodho’ puasanya sampai datang Ramadhan berikutnya. Ini sebagai kafarat atas kelalaiannya dalam mengqodho’ puasa. Jumlah fidyah yang dibayar disesuaikan dengan jumlah puasa yang belum diqodho’. Kafarat ini tidak diwajibkan bagi orang yang uzurnya terus berlangsung seperti menderita sakit, terhalang oleh haid atau nifas dan lain-lain.    

 

c. Ada 2 kondisi bagi orang yang meninggal terkait dengan kewajiban puasa Ramadhan:  

1. Orang tersebut wafat sebelum sempat berpuasa karena waktu yang sempit atau adanya uzur seperti sakit sehingga tidak sanggup berpuasa, maka orang yang wafat dalam kondisi seperti ini menurut mayoritas fuqoha tidak berkewajiban apapun, sebab ia tidak melalaikan atau meremehkan puasa Ramadhan. Ia tidak berdosa karena tidak  mampu melaksanakan puasa hingga ajal menjemputnya. Hukum wajibnya gugur sebagaimana halnya kewajiban haji. Ahli waris dan wali dari orang yang meninggal ini tidak berkewajiban menggantikan puasa atau membayarkan fidyahnya.

                                                                                                                                                                                                                                                                                                    2. Orang tersebut wafat setelah ia berkemungkinan melakukan puasa (mengqodho’nya). Maka ada perbedaan pendapat dalam hal ini.                                                                                         

  • Menurut mayoritas fuqoha walinya tidak perlu berpuasa untuknya, melainkan hanya membayarkan fidyah yang dikeluarkan dari harta yang ditinggalkan orang tersebut. Bahkan menurut qaulul jadid mazhab Syafi’i, jika walinya berpuasa untuknya maka puasanya tidak sah karena puasa merupakan ibadah badaniyah mahdhoh sama halnya dengan shalat yang tidak bisa diwakilkan pada saat masih hidup atau pun sesudah meninggal. Yang wajib dilakukan oleh ahli waris/walinya  hanyalah membayarkan fidyah baginya sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar: Barangsiapa mati, sedangkan dia mempunyai tanggungan puasa selama sebulan, hendaknya dia diwakili oleh walinya untuk memberi makan seorang miskin setiap hari. (HR Ibnu Majah)
  • Menurut sebagian mazhab Hambali, sekelompok muhaddits mazhab Syafi’i, Abu Tsaur al-Auza’i, dan sebagainya, berpendapat bahwa ahli waris dan wali orang yang sudah wafat tersebut disunahkan berpuasa baginya sebagai tindakan kehati-hatian demi terbebasnya mayat dari tanggungannya. Dalil mereka adalah beberapa hadits, di antaranya hadits muttafaq ‘alaihi yang diriwayatkan dari Aisyah, Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa mati sedangkan dia memiliki tanggungan puasa, hendaknya walinya berpuasa untuknya.                                                     

 

Tentu ahli waris atau wali dari orang yang sudah meninggal apabila tidak tahu berapa hutang puasa yang belum dibayar almarhum atau almarhumah tidak berkewajiban membebankan dirinya dengan sesuatu yang tidak ia ketahui. Yang dapat dilakukan oleh ahli waris atau wali adalah memohonkan ampunan pada Allah atas dosa-dosa yang pernah diperbuat almarhum atau almarhumah semasa hidupnya, menunaikan wasiatnya, menyambung silaturrahim dengan orang-orang yang pernah menjalin hubungan dengan beliau semasa hidup, membayar utang piutang beliau atau mewakafkan atau menginfaqkan harta untuk/atas nama beliau. Wallahu a’lam.

 

d. Dari penjelasan di atas dan ketidaktahuan tentang qodho’ puasa almarhum, maka yang dapat Anda lakukan adalah bersedekah atas nama almarhumah. Dalam hadits diterangkan tentang sampainya pahala sedekah kepada mayit. Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada di tempat, lalu ia datang kepada Nabi saw untuk bertanya: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat, apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya?” Rasululullah saw menjawab: “Ya”. Saad berkata: “Saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahkan untuknya.” (HR Bukhari)

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter