Hak atas Harta Warisan Suami

Selasa, 20 November 2012 WIB |
3935 kali | Kategori: Ya Ummi


Assalamu’alaikum

Kiranya Ummi mau membantu saya memecahkan masalah yang sedang saya hadapi ini. Umur saya sekarang 52 tahun. Saya telah menikah dua kali. Pada pernikahan pertama, suami saya meninggal dunia dengan meninggalkan 3 orang anak, sekarang mereka sudah menikah semua. Lalu saya menikah lagi pada tahun 1994. Suami kedua saya ini sudah cukup tua dan dia memiliki 5 orang anak yang sudah menikah semua dengan beberapa orang cucu. Rumah suami dan rumah anak-anaknya berdekatan, jadi keluarga besar kumpul di situ semua. Seperti itulah gambaran keluarga suami saya.

Tahun 2006 suami kedua saya ini meninggal dunia karena sakit yang sudah lama dideritanya. Setelah kematiannya saya masih tinggal di rumah suami, karena di sini saya mempunyai pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Awalnya saya merasa tidak ada salahnya tinggal di rumah suami ini. Tapi belakangan ini saya melihat anak-anak suami merasa keberatan. Sikap mereka berubah, bahkan ada salah seorang anaknya bersikap kasar. Dia pernah membentak saya, katanya saya mau menguasai rumah bapaknya ini.

Anak-anak yang lain menggunjingkan saya dengan tetangga. Saya dibilangnya tidak mau keluar dari rumah ini. Di dalam rumah pun ada tulisan, “rumah ini milik hak waris keluarga”, entah siapa yang menuliskan itu. Sikap anak-anak yang seperti itu sungguh membuat saya malu. Apakah saya tidak berhak tinggal di rumah ini? Saya tak menyangka anak-anak sampai begitu dengkinya pada saya. Padahal waktu suami saya sakit, anak-anaknya tidak ada yang membantu  merawatnya, padahal semua tinggalnya dekat. Saya yang merawat almarhum, apalagi karena itu memang kewajiban saya. Untuk berobat pun mereka tak mau membantu. Semua keperluan rumah sakit ditanggung saya dan dari hasil penjualan tanah milik almarhum.

Ummi, apa yang harus saya lakukan menghadapi sikap anak-anak tiri saya yang demikian? Apakah saya memang tak berhak tinggal di rumah itu?

Sebenarnya apakah saya punya hak waris atas harta almarhum suami saya?  Harta peninggalan yang tersisa memang hanya rumah itu, karena tanah dan rumah milik almarhum yang lain telah dikuasai anak-anaknya dan sudah diakui sebagai bagian mereka masing-masing.

Ummi, mohon penjelasannya.

Wassalamu’alaikum

 

Rohima, Jakarta

 

Jawaban Syariah

Ibu Rohima yang Ummi cintai. Ummi prihatin dengan apa yang Ibu alami, semoga Ibu dapat bersabar dan berbesar hati dalam menghadapi berbagai permasalahan kehidupan ini.

Ummi sangat kagum dan bangga kepada Ibu yang telah menunjukkan bakti dan ketaatan kepada suami. Karena tugas seorang istri kepada suaminya adalah berbakti, melayani dan taat kepadanya dalam menjalankan kewajiban Ibu kepada suami, baik saat suami masih hidup dan bahkan setelah suami meninggal sekalipun. Mulai dengan mengurus jenazahnya, menjaga dan merawat peninggalannya, menjalankan amanat dan wasiatnya, serta melanjutkan hubungan silaturrahimnya dengan kerabat dan sanak saudaranya. Dan itu semua sudah Ibu buktikan, dengan merawat suami yang sedang sakit keras, menjaga dan merawat pusakanya hingga pembagian warisan.

Ibu Rohima yang diberkahi Allah, anak-anak dan cucu-cucu dari suami Ibu itu juga merupakan anak-anak dan cucu-cucu Ibu. Ibu terikat hubungan kekerabatan dengan mereka, walaupun mereka bukan anak biologis Ibu. Sehingga posisikanlah diri sebagai Ibu dan Nenek dari anak-anak dan cucu-cucu dari suami Ibu.

Cobalah dibangun kembali hubungan silaturrahim antara Ibu dengan anak-anak serta cucu-cucu tersebut. Bangun kembali kesatuan dan keutuhan keluarga mendiang suami Ibu. Bicarakanlah tentang wasiat dan pesan-pesan mendiang suami Ibu kepada anak-anak Ibu.

Secara Islam, Ibu berhak mendapatkan warisan dari harta peninggalan suami, yaitu seperdelapan bagian dari harta peninggalan suami. Dan anak-anak dari suami Ibu juga berhak mendapatkan warisan dari harta ayah mereka.

Inilah pokok permasalahannya, Islam sangat menganjurkan agar segera menyelesaikan permasalahan harta warisan. Hendaknya jangan ditunda-tunda, karena makin ditunda akan semakin menimbulkan masalah lainnya. Sebaiknya Ibu mengundang seorang ustadz atau ulama yang mengerti masalah warisan dan dapat menyelesaikan permasalahan keluarga Ibu dengan arif dan bijak tanpa menimbulkan konflik dan permasalahan baru.

Ibu Rohima yang Ummi sayangi, perbanyaklah doa meminta pertolongan dan perlindungan Allah agar Ibu dapat menyelesaikan permasalahan ini. Semoga Allah swt memberikan kekuatan dan ketabahan kepada kita semua. Amiin

 

 

Jawaban Psikologi

            Ibu Rohimah yang dirahmati Allah swt. Pernikahan membuat seseorang memiliki peluang besar untuk mengembangkan jalinan persaudaraan yang lebih luas. Tentunya ketika kita berinteraksi dalam keluarga besar –termasuk keluarga inti- banyak hal-hal yang perlu diperhatikan agar silaturahmi tetap harmonis. Apalagi bila mengingat pencitraan yang telah terlanjur tertanam pada masyarakat kita, yang memberikan label negatif pada keberadaan ibu tiri. Di sinilah Ibu memiliki peluang untuk meluruskan pencitraan tersebut, tentu melalui serangkaian usaha yang positif.

Berikut saran Ummi yang mungkin dapat dipertimbangkan:

1. Fahamilah bahwa sikap anak-anak (dari suami) Ibu bertindak seperti yang Ibu tulis, disebabkan karena perasaan khawatir mereka bila bagian warisan dari ayahnya urung mereka dapatkan. Sikap ini bisa timbul karena berbagai faktor: kondisi ekonomi anak-anak yang boleh jadi dalam keadaan kekurangan; atau perasaan khawatir bila pembagian harta warisan menjadi kurang adil sehingga hak-hak mereka untuk mendapatkan harta tersebut menjadi terhalang.

2. Sebagai umumnya keluarga muda, masalah ekonomi merupakan persoalan yang jamak terjadi. Karena itu baiknya Ibu berpikir positif, bahwa sikap mereka itu lebih banyak disebabkan karena kebutuhan internal mereka saat ini. Dengan menyadari hal tersebut, Ibu diharapkan dapat lebih bijak dalam mengambil tindakan.

3. Tetap tunjukkan sikap dan perilaku sebagai orangtua yang mengayomi anak-anaknya (dan juga cucu-cucu). Tidak perlu terpancing emosi, namun berusahalah untuk memperlakukan mereka sebagaimana anak-anak yang kadang kala berbuat kesalahan. Sebaiknya pun Ibu tetap menjalin silaturrahim dengan mereka secara rutin dan intens (bertegur sapa, memberikan nasehat, saling memberi hadiah, atau tindakan sederhana lainnya) sehingga hati mereka menjadi luluh.

4. Bila ada pembicaraan yang kurang mengenakkan, jangan mudah memasukkannya ke dalam hati. Tetap tunjukkan kesabaran Ibu dan sikap positif saat menghadapi persoalan, sehingga mereka dapat merasakan kebaikan-kebaikan yang Ibu miliki.

5. Untuk penyelesaian hukum waris, bertanya pada rubrik ini sudah merupakan langkah yang tepat. Agama Islam sendiri memiliki aturan yang jelas dan rinci mengenai hal tersebut. Ini dilakukan agar tidak terjadi saling menuduh, syak wasangka, dan perasaaan negatif lainnya yang akan memutuskan tali silaturrahim. Bagaimana pun juga ikatan persaudaraan yang dijalin jauh lebih penting dari peninggalan harta warisan itu sendiri, karena persaudaraan lebih kekal; sementara harta akan mudah terpakai di tengah jalan. Doa Ummi menyertai Ibu dan keluarga.

 

Jawaban Hukum

Terimakasih atas pertanyaan Bunda. Semoga Bunda senantiasa sehat dan tetap bersemangat kendati menghadapi masalah yang lumayan pelik ini.

Mengkaji situasi Bunda dalam perkara waris ini, Ummi meyakini bahwa Bunda adalah juga ahli waris yang sah.  Pasal 171 huruf c dari Kompilasi Hukum Islam Indonesia menyebutkan bahwa ‘ahli waris’ adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.

Kemudian, kedudukan Bunda ditegaskan oleh pasal 174 ayat 2 yang menyebutkan bahwa:  Apabila semua ahli waris ada, maka yang berhak mendapat warisan hanya anak, ayah, ibu, janda atau duda

Berapa bagian Bunda sebagai ahli waris? Berdasarkan Pasal 180 peraturan yang sama adalah:  “Janda mendapat seperempat bagian bila pewaris tidak meninggalkan anak, dan bila pewaris meninggalkan anak, maka janda mendapat seperdelapan bagian.“

Berdasarkan hukum Islam Indonesia, kendati Bunda tergolong sebagai Ibu tiri, Bunda juga tetap berhak untuk tinggal di rumah peninggalan suami, karena Bunda menikah dan berstatus istri yang sah.  Kendati demikian, Bunda juga memang tak dapat menguasai semuanya. Karena ada juga bagian dari anak-anak tiri Bunda dan cucu tiri Bunda (cucu mendapat bagian waris apabila orangtuanya sudah tiada berdasarkan pasal 185 Kompilasi Hukum Islam).

Jalan paling baik adalah, apabila mungkin, memusyawarahkan kembali dengan anak-anak tiri dan cucu tiri Bunda tentang status rumah peninggalan suami, termasuk juga tentang bagian para ahli waris.  Karena bagaimana pun mereka tetap anak-anak dan cucu Bunda, dan Bunda-pun adalah juga berstatus Ibu mereka.  Pasal 183 Kompilasi Hukum Islam memungkinkan dilakukannya perdamaian sesama ahli waris untuk melakukan kesepakatan dalam pembagian warisan (yang barangkali bisa berbeda dengan jumlah yang telah ditetapkan sebelumnya). 

Rumah tersebut dapat dijual kemudian dan hasil penjualannya dibagi sesuai dengan bagian masing-masing atau juga tetap dipertahankan dan dikelola atau ditinggali secara bersama dengan kesepakatan para ahli waris.

Bunda dapat juga memohon kepada Pengadilan Agama setempat untuk memperoleh penetapan ahli waris (fatwa waris), supaya Bunda memperoleh dasar hukum tentang status Bunda sebagai ahli waris.

Akhirnya, Ummi berharap bahwa Bunda dan ahli waris yang lain tetap dapat mengusahakan penyelesaian masalah waris ini dengan bijak.  Jangan sampai perkara harta waris malah menjadi pengganggu bahkan memutuskan hubungan silaturrahim dan kekeluargaan di antara para ahli waris. 

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter