Jangan Menipu dengan Sumpah Palsu!

Minggu, 18 November 2012 WIB |
1992 kali | Kategori: Kajian Al Quran


”Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan”

(QS Al Munaafiquun [63]: 2).

      

Tidak sedikit orang yang menutupi kebohongannya dengan sumpah. Seorang suami atau istri yang mengkhianati pasangannya misalnya, ketika dikonfirmasi tentang pengkhianatannya maka dengan entengnya ia bersumpah. Seorang koruptor tidak segan-segan mengumbar sumpah untuk menutupi perbuatan korupsinya. Pencuri yang sudah tertangkap basah pun terkadang tanpa beban berkelit dengan ribuan sumpah. Seseorang yang menggunjing dan memfitnah orang lain, ketika ditegur oleh orang yang difitnah, tidak jarang sering berkilah dengan sumpahnya, ”Demi Allah, saya tidak pernah mengatakan apa-apa tentang kamu. Demi Allah, kamu benar-benar sahabat sejatiku”. Seorang calon anggota legislatif atau calon pejabat di saat kampanye ’menghipnotis’ masyarakat dengan janji-janjinya, namun setelah berhasil menjadi pejabat dan ditagih janjinya, terkadang tanpa merasa dosa bersumpah, ”Demi Allah, saya tidak pernah menjanjikan itu”. Dan sebagainya.

Jika mereka melakukan itu, maka mereka benar-benar telah menjadikan sumpahnya sebagai perisai.

 

Bersumpah Palsu adalah Karakter Orang Munafik

Ayat di atas menerangkan salah satu karakter orang munafik, yaitu banyak bersumpah palsu untuk menutupi kedustaannya. Dalam kajian Imam Ibnu Katsir, bahwa ayat ini meminta kita, kaum muslimin untuk waspada terhadap orang-orang yang bersumpah palsu supaya masyarakat membenarkan apa yang mereka katakan. Sehingga orang yang tidak mengenal hakekat mereka, berdecak kagum dan meyakini bahwa mereka (pun) orang-orang Islam. Bisa jadi ia meneladani apa yang mereka perbuat dan membenarkan apa yang mereka katakan. Padahal dalam batin mereka, tidak ada sedikit pun celah bagi Islam dan kaum muslimin. Hal ini tentu membawa banyak mudharat bagi banyak orang. Untuk itulah Allah swt berfirman, ”Lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan”(Lihat Tafsir Ibnu Katsir V/92).

Yang dimaksud dengan Junnah atau perisai dalam ayat tersebut adalah bahwa orang-orang munafik bersumpah bahwa mereka beriman adalah untuk menjaga harta mereka supaya jangan dibunuh atau ditawan atau dirampas hartanya (Lihat At Tafsir Al Munir, Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili, XXVIII/215).

Ayat ini memberi sinyal kuat, bahwa orang-orang munafik biasa mengumbar sumpah setiap kali terkuak tipu daya atau rencana jahat mereka atau komentar buruk mereka tentang kaum muslimin. Mereka lakukan itu untuk menutupi kebusukan dan kebobrokan mereka sehingga mereka tidak dihukumi sebagai orang kafir yang halal darah dan hartanya. Sekaligus agar mereka terus dapat melanjutkan tipu daya dan makar jahatnya sehingga mereka dapat menghalangi (manusia) dari jalan Allah.

Begitu bahayanya prototipe manusia yang banyak bersumpah seperti itu, maka Allah swt melarang kita mengikutinya sebagaimana firman-Nya, ”Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina” (QS Al Qalam [68]: 10).

Lafazh ”Hallaaf” dalam ayat ini, bermakna banyak bersumpah dan merupakan shighah mubaalaghah (bentuk kalimat yang mengandung arti berlebihan) mengikuti wazan ”Fa’aal” yakni bersumpah terus-menerus.

 

Ancaman Neraka karena Menipu dengan Sumpah Palsu

Karena sering menipu dengan sumpah palsu ini, orang-orang munafik diancam oleh Allah dengan neraka Jahannam. Allah swt berfirman, ” Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam” (QS An Nisaa’ [4]: 140).

Bahkan, mereka ditempatkan di aspalnya neraka sebagaimana firman Allah swt, ”Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka” (QS An Nisaa’ [4]: 145).

Hal Ini menunjukkan betapa bahayanya orang-orang munafik. Dan karenanya umat harus selalu waspada terhadap kelompok ini yang terkadang tidak mudah untuk dikenali. Sebab ’baju’ mereka adalah Islam. Bahasa dan ungkapan-ungkapan mereka bernadakan Islam. Penampilan mereka pun terkadang tak berbeda dengan umumnya kaum muslimin. Namun, dalam diri mereka tersimpan rasa dengki dan benci terhadap Islam dan kaum muslimin. Mereka selalu berusaha melemahkan perjuangan umat. Semua program dan aktivitas yang berorientasikan Islam selalu mereka halangi. Karenanya, tidak salah jika mereka pantas disebut sebagai ’musuh dalam selimut’. Namun, setiap kali akan terungkap kebusukannya, mereka langsung menutupinya dengan bersumpah palsu. Dan tentu hal ini termasuk pelecehan terhadap Allah, karena membawa-bawa nama ”Allah” dalam sumpahnya (Demi Allah) guna menutupi kebobrokannya.

 

Jangan Terbiasa dengan Sumpah

Agar rumah kita tidak seperti neraka, maka kita tidak boleh membiarkan seorang pun dari anggota keluarga kita terbiasa dengan sumpah. Caranya dengan menanamkan nilai-nilai kejujuran sejak dini kepada mereka. Menjelaskan bahayanya bersumpah palsu. Dan yang lebih penting lagi memberikan keteladanan yang baik dalam masalah ini.

Manusia-manusia besar yang namanya dicatat dengan tinta emas dalam sejarah, mereka menjadi besar dan unggul karena mereka selalu meninggalkan perilaku negatif ini. Imam Syafi’i –rahimahullah- misalnya, beliau tidak pernah bersumpah, baik dilakukannya untuk kebenaran ataupun kedustaan. Ulama yang nama aslinya, Muhammad bin Idris ini pernah mengatakan, ”Saya tidak pernah bersumpah dengan (nama) Allah, baik secara benar maupun dusta”.

Luar biasa!! Betapa tinggi ketakwaan Imam Syafi’i. Betapa wara’ beliau. Hal itu, beliau lakukan semata-mata sebagai pengagungan dan penghormatan kepada Allah swt.

Memang, tidak dosa orang bersumpah untuk kebenaran. Tetapi ketika itu menjadi kebiasaan maka bukan hal yang baik, bahkan bisa masuk katagori ”Hallaaf” (banyak bersumpah) yang dilarang Allah untuk mengikutinya sebagaimana tersebut di atas. Lebih dari itu, berpotensi besar untuk terjerumus ke dalam sumpah palsu.

Untuk itu, jangan tolerir istri atau suami dan anak-anak kita menyepelekan dan mempermainkan sumpah. Buat komitmen dan tulisan besar di rumah kita, ”Jangan Ada Sumpah Palsu di Antara Kita”, agar rumah kita tidak panas membara bak neraka, hingga jauh dari ketenangan, ketentraman, kedamaian, kesejahteraan dan kebahagiaan. (Ahmad Khusyairi Suhail, MA)

 

 

 


Redaksi Ummi-Online.com.
Jl. Mede No 42 Utan Kayu Jakarta Timur. Email: majalah_ummi[at]yahoo.com
Kontak Kami | Info Berlangganan | Info Iklan | Daftar Agen | Facebook | Twitter