Minggu, 24 Juni 2012 WIB
|
1294 kali
| Kategori: Kajian Al Quran

“... kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiyya: 35)
Kebanyakan kita sering mempersipkan ujian itu hanya dalam hal keburukan, kesulitan, dan tidak menyenangkan. Seperti ujian sakit, kemiskinan, kebangkrutan usaha atau pailit, pengangguran, kegagalan, problematika rumah tangga, musibah, dan hal negatif lainnya. Sehingga muncullah beragam keluhan dan ratapan terhadap ujian itu. Sementara jarang atau bahkan belum pernah kita temukan orang mengeluhkan banyaknya nikmat dan kelapangan rizki.
Pemahaman dan persepsi seperti ini jelas salah dan sudah saatnya kita mendefinisi makna ujian. Ayat di atas menjelaskan hakikat ujian yang sebenarnya dalam perspektif Al-Qur’an.
Ujian adalah Keniscayaan
Sesungguhnya ujian (ibtila’) adalah sebuah keniscayaan karena ia merupakan sunnatullah dalam kehidupan. Maka, berani hidup harus berani pula menghadapi ujian. Hidup tanpa ujian adalah mustahi. Sebab, kehidupan sendiri adalah ujian, sebagaimana firman Allah SWT, “(Dialah) yang menjadikan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” (QS Al Mulk: 2).
Karena itu, ayat di atas menggunakan redaksi dengan bentuk fi’il mudhari’ (wa nabluukum) yang memiliki makna at tajaddud wa’l istimraar (pembaruan dan kontinuitas). Hal ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa ujian kehidupan itu bisa beragam bentuknya dan berkesinambungan, tidak akan pernah stagnan sepanjang hayat masih di kandung badan.
Pada ayat lain, Allah menegaskan, ujian termasuk qadhaaya imaniyah (diskursus keimanan), bahkan merupakan muqtadlayaaatu’l iman (tuntutan keimanan), sebagaimana firman-Nya: “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta,” (QS Al Ankabuut: 2-3).
Karena itulah manusia-manusia pilihan Allah, seperti para Nabi dan Rasul pun menghadapi ujian dalam perjalanan hidupnya. Ada yang diuji untuk menyembelih putranya, seperti Nabi Ibrahim as. Nabi Zakariya as diuji sekian puluh tahun membangun rumah tangga tidak dikaruniai anak dan baru Allah kabulkan doanya ketika ia memasuki usia senja, maka lahirlah Nabi Yahya as.
Ada yang diuji dengan penyakit selama berpuluh-puluh tahun seperti Nabi Ayyub as. Sedangkan Nabi Nuh as diuji dengan respons negatif kaumnya dan hanya sedikit sekali dari mereka yang beriman padahal beliau telah berdakwah selama 950 tahun. Termasuk Rasulullah saw, beliau juga menghadapi begitu banyak ujian dan cobaan. Ujian adalah cara Allah untuk menggembleng dan meningkatkan derajat para hamba-Nya. Nabi SAW bersabda, “Besarnya ganjaran pahala sesungguhnya berasal dari besarnya ujian/musibah yang menimpa. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Ia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha/rela, maka Allah pun ridha padanya, dan barangsiapa yang murka karenanya, maka Allah pun murka padanya,” (HR Tirmidzi no. 2576, dan menurutnya ini adalah hadits hasan gharib).
Karenanya, ujian sesungguhnya kebaikan bagi seorang mukmin. Sebab, ujian dan musibah itu menjadikannya selalu bersandar kepada Allah , mendekat dan taat kepada-Nya, serta meninggalkan semua bentuk kemaksiatan.
Ujian keburukan dan kebaikan
Ayat di atas menetapkan bahwa ujian yang Allah berikan kepada para hamba-Nya mencakup dua hal:
Pertama, ujian yang bernama keburukan, yaitu kemudharatan dunia dan segala sesuatu yang tidak menyenangkan. Seperti, penyakit, kemiskinan, kesulitan hidup, bencana alam, dan lain sebagainya.
Kedua, ujian yang bernama kebaikan, yaitu segala kenikmatan dunia, seperti kelapangan rizki dan kemapanan ekonomi, kesehatan, kebahagiaan, kesuksesan, jabatan dan kekuasaan, dan lain-lain.
Begitulah, Allah menjelaskan bahwa manusia dengan beragam kewajiban yang dibebankan kepadanya berada di antara dua kondisi: kebaikan dan keburukan, dan semua itu termasuk ujian. Itu untuk melihat apakah dia bersyukur atas anugrah dan sabar atas musibah atau tidak?
Jika seseorang mampu menyikapi kedua ujian tersebut secara profesional dan proporsional, maka ia mendapat pahala besar dan telah melaksanakan perintah dengan benar. Sebaliknya, jika tidak, maka ia berpotensi mendapat ancaman Allah seperti pernah diterima kaum terdahulu yang menentang ketentuan dan syariat-Nya.
Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras, dan syaithan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,” (QS Al-An’am: 42-45).
Maka, menyadarkan diri dan membangkitkan jiwa tentang ujian kebaikan harus lebih diprioritaskan daripada membangkitkan jiwa tentang ujian keburukan.
Selalu meningkatkan kualitas iman dan menjalin hubungan yang harmonis dengan Allah dalam dua kondisi tersebut adalah jaminan yang bisa menyelamatkan seseorang dan membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena, hanya keimanan yang mampu membaca semua keadaan menjadi kebaikan.
Rasulullah saw bersabda, “Sungguh amat menakjubkan urusan orang yang beriman, karena semua urusannya adalah kebaikan semata, dan tidak seorang pun yang memiliki hal itu selain orang beriman. Apabila ia memperoleh kegembiraan (nikmat), lalu ia bersyukur, maka kebaikan baginya. Dan apabila ia tertimpa bencana, lalu ia bersabar, maka itupun kebaikan baginya,” (HR. Muslim no. 5318).
Jadi, kata kuncinya adalah menyikapi ujian kebaikan dengan syukur dan menyikapi ujian keburukan dengan sabar. (Ahmad Kusyair Suhail, MA).