Minggu, 24 Juni 2012 WIB
|
678 kali
| Kategori: Mutiara Dakwah

Dakwah bukanlah sesuatu yang asing. Ia ditemui bukan hanya di masjid atau majelis taklim, tapi juga di sekolah, kantor, pasar, dan hotel. Pelakunya juga bukan cuma ulama atau ustadz, tapi para pejabat, pengusaha, artis, seniman, dan lain-lain. Mereka naik ke mimbar atau menulis di media untuk mengajak manusia pada kebaikan.
Berdakwah butuh kesadaran mendalam di hati setiap Muslim. Luasnya jangkauan yang harus disentuh dakwah, membuatnya tidak mungkin diemban segelintir pihak. Perlu banyak orang untuk menuangkan gagasan pembaharuan di tengah kejumudan hidup. Apalagi jika dikaitkan dengan nuansa religius dan tugas berat dakwah, makna di dalamnya mestilah mampu memotivasi dan menguatkan seorang Muslim untuk giat berdakwah.
Karena itu, dakwah yang dilakukan harus berangkat dari kesadaran beragama mendalam, jauh dari keinginan mencari sensasi apalagi sekedar ikut-ikutan. Ringkasnya, tugas dakwah harus dilandasi motivasi-motivasi ukhrawi yang kuat. Inilah yang melatarbelakangi kita berdakwah.
1. Dakwah merupakan jalan hidup para rasul. Allah swt berfirman, “Katakanlah: inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin...” (QS. Yusuf: 108). Berdasarkan ayat mulia ini kita dapat mengambil sebuah pelajaran berharga, bahwa dakwah ilallah (mengajak manusia kepada Allah) merupakan jalan orang yang mengikuti Rasulullah saw.
2. Meninggalkan dakwah akan membawa petaka. Allah swt mengungkapkan tentang kedurhakaan orang-orang kafir Bani Israil, “Orang-orang kafir dari Bani Israil telah dilaknat melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang selalu mereka perbuat. Sungguh sangat buruk apa yang mereka perbuat,” (QS. Al-Ma’idah: 78-79).
Ayat ini menjelaskan bahwa tindakan mereka itu (mendiamkan kemungkaran) menunjukkan bahwa mereka meremehkan perintah Allah dan kemaksiatan mereka anggap sebagai perkara sepele. “Seandainya di dalam diri mereka terdapat pengagungan terhadap Rabb mereka niscaya mereka akan merasa cemburu karena larangan-larangan Allah dilanggar. Tentu mereka pasti akan marah karena mengikuti kemurkaan-Nya...” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241).
Di antara dampak mendiamkan kemungkaran adalah kemungkaran termasuk semakin merajalela. Syaikh As-Sa’di memaparkan akibat buruk ini. “Sesungguhnya hal itu (mendiamkan kemungkaran) menyebabkan para pelaku kemaksiatan dan kefasikan menjadi semakin lancang dalam memperbanyak perbuatan kemaksiatan tatkala perbuatan mereka tidak dicegah oleh orang lain sehingga keburukannya semakin menjadi-jadi. Musibah diniyah dan duniawiyah yang timbul pun semakin besar karenanya. Hal itu membuat mereka (pelaku maksiat) memiliki kekuatan dan ketenaran. Kemudian yang terjadi setelah itu adalah semakin lemahnya daya yang dimiliki oleh ahlul khair (orang baik-baik) dalam melawan ahlusy-syarr (orang-orang jelek), sampai-sampai suatu keadaan di mana mereka tidak sanggup lagi mengingkari apa yang dahulu pernah mereka ingkari,” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 241).
3. Orang yang berdakwah berhak mendapatkan pertolongan Allah. Allah berfirman: “... Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di muka bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah yang dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan,” (QS. Al-Hajj: 40-41).
Ayat yang mulia ini juga menunjukkan, barangsiapa yang mengaku membela agama Allah namun tidak memiliki ciri-ciri seperti yang disebutkan (mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan yang ma’aruf dan melarang yang mungkar) maka dia adalah pendusta (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 540).
4. Dakwah, alasan bagi hamba di hadapan Rabb-nya. Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika suatu ummat di antara mereka berkata, ‘mengapa kalian tetap menasehati kaum yang akan dibinasakan atau diazab Allah dengan azab yang amat keras?’ mereka menjawab, ‘agar kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhan-mu, dan agar mereka bertakwa,’” (QS. Al-A’raaf: 164).
Inilah maksud paling utama dari pengingkaran terhadap kemungkaran; yaitu agar menjadi alasan untuk menyelamatkan diri (di hadapan Allah), serta demi menegakkan hujjah kepada orang yang diperintah dan dilarang dengan harapan semoga Allah berkenan memberikan petunjuk kepadanya sehingga dengan begitu dia akan mau melaksanakan tuntutan perintah atau larangan itu (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 307).
Allah berfirman, “Rasulullah itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan memberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana,” (QS. An-Nisa: 165).
Dari Ibnu Abbas ra, Rasulullah saw berkhutbah di hadapan para shahabat pada hari raya kurban. Beliau berkata, “Wahai umat manusia, hari apakah ini?” mereka menjawab, “hari yang disucikan.” Lalu beliau bertanya, “negeri apakah ini?” Mereka menjawab, “negeri yang disucikan.” Lalu beliau bertanya, “bulan apakah ini?” Mereka menjawab, “bulan yang disucikan.” Lalu beliau berkata, “Sesungguhnya, darah, harta, dan kehormatan kalian adalah disucikan, tak boleh dirampas dari kalian, sebagaimana sucinya hari ini, di negeri (yang suci) ini, di bulan (yang suci) ini.” Beliau mengucapkannya berulang-ulang kemudian mengangkat kepalanya seraya menguapkan, “Ya Allah bukankah aku sudah menyampaikannya? Ya Allah, bukankah aku telah menyampaikannya?” (HR. Bukhari dalam Kitab Al-Hajj, bab Al-Khutbah ayyama Mina, hadits no. 1739).
Al Hafizh Ibnu Hajar ra menerangkan, “sesungguhnya beliau mengucapkan perkataan semacam itu (Ya Allah bukankah aku sudah menyampaikannya) disebabkan kewajiban yang dibebankan kepada beliau adalah sekadar menyampaikan. Maka beliau pun mempersaksikan kepada Allah swt bahwa dirinya telah menunaikan kewajiban yang Allah bebankan untuk beliau kerjakan,” (Fath al-Bari jilid 3, hal 652).
Begitulah, karena kesadaran berdakwah dilakukan bukan untuk menentang segala yang ada dalam masyarakat, melainkan untuk memperbaikinya. Kita tidak bertugas sebagai hakim yang menilai, menghakimi, dan menghukum masyarakat; melainkan sebagai tabib yang mengobati. Kita haruslah bersikap seperti pohon. Ketika manusia melempari batu, kita membalasnya dengan buah kebaikan. Wallahu a’lam. (Aidil Heryana, S.Sos).