Senin, 28 Maret 2011 WIB
|
2838 kali
| Kategori: Kolom Ayah
oleh Wasis Samekto
Guru, tinggal di Subang, Jawa Barat
Keluarga menurut saya adalah sebuah sekolah. Saya, Anda dan kita sebagai laki-laki yang bernama suami dan ayah adalah kepala sekolahnya. Sebagaimana sekolah pada umumnya, akan menelurkan alumnus—anak-anak kita—yang kelak mendirikan sekolah baru dengan nama keluarga pula. Bagaimana kita mendidik anak-anak, seperti itu pula nanti cara mereka mendidik anak-anaknya, cucu kita.
Namun, ada kegalauan tak bertepi melihat potret keluarga-keluarga kita sekarang. Seakan tidak ada figur 'kepala sekolah' yang baik dengan kurikulum yang tepat. Padahal kisah-kisah dalam Al-Qur’an adalah kurikulum terpadu yang indah bagi 'kepala sekolah' di seluruh dunia. Pemaknaan terhadap profil paripurna nabi dan rasul berikut perjalanan hidup mereka pada hakikatnya adalah pemaknaan terhadap titik yang paling cemerlang atas pencarian kesempurnaan kehidupan kita sendiri. Bila kita semakin berjarak dengan pembelajaran Al-Qur’an, sebenarnya kita telah mencabut cahaya dari diri kita.
Di dalam kitab suci ini kita akan menemukan seorang ayah shalih yang memiliki anak durhaka dan istri yang tidak setia. Di situ kita mendapatkan tegarnya Nabi Luth dan sabarnya Nabi Nuh. Hal yang harus kita ingat betul adalah tugas Luth dan Nuh sebagai suami dan bapak yang baik sudah paripurna. Sedangkan kita bukan nabi apalagi rasul, dan tugas kita sebagai suami dan ayah yang baik bisa jadi masih jauh dari sempurna. Kisah mereka saya maknai sebagai kurikulum terapi bagi istri dan anak-anak kita.
Al-Qur'an menguraikan kisah lain yang bisa dicerna para suami, yaitu kisah wanita shalihah Asiah. Meski bersuamikan Fir'aun, ia tetap dalam keimanan yang kokoh. Saya baru tersadar 'mendengar' jeritan hati Asiah yang mulia ketika ia menggantungkan harapan tertingginya kepada Allah, “Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang lalim (QS At-tahrim [66]: 11). Rumahnya di dunia pasti bukanlah surga, melainkan rumah yang dibangun Fir’aun—lebih tepat disebut neraka dunia. Risau hati bunda Asiah bukanlah persoalan ekonomi yang pas pasan atau prestise yang jatuh sebab Fir'aun memiliki segalanya. Jawabannya adalah pada puncak keburukan karakter Fir’aun. Dengan ucapan wa najjinii minal qaumidzalimiin, ia minta kepada Allah swt untuk dijauhkan dari suaminya—dan perbuatannya—sendiri. Kisah Asiah tersebut seakan mengingatkan kita, “Wahai para suami, para ayah jangan sampai istri dan anak kita bermohon kepada Allah bangunan rumah di surga hanya karena mereka tidak menemukan surga di rumah yang kita bangun.
Dalam Al-Qur’an kita bahkan menemukan sebuah surat yang sarat dengan nasihat kurikulum pendidikan yang kental, yaitu kisah Luqman yang mentarbiyah buah hatinya. Kalau itu masih kurang, simaklah kisah Ibrahim yang taat kepada Rabb-nya beserta Ismail yang berbakti kepada orangtuanya. Di sana terdapat dialog yang indah untuk sesuatu yang sungguh sangat berat, penyembelihan Ismail sang putera tercinta.
Kisah-kisah di atas menjadi abadi, pelajaran untuk semua ayah di seluruh dunia dan di semua lorong waktu. Semoga kisah kita sebagai suami dan ayah juga akan berakhir indah hingga hari berbangkit kelak. Allahumma amiin ya mujib assaailin.