Gara-gara Berbagi Listrik
Senin, 07 Juni 2010 WIB
|
1309 kali
| Kategori: Obrolan

Sudah tiga bulan, nyaris setiap azan subuh hingga jam delapan pagi, Bu Rahmat harus memendam dongkol karena matinya listrik di rumahnya. Itu bukan salah PLN, bukan pula karena hujan deras atau angin ribut, melainkan oleh sebuah niat baik. Yang jelas, buat Bu Rahmat, niat baiknya itu sudah tumbuh menjadi masalah yang amat menjengkelkan.
"Pak, tolong dong, gantian Bapak yang menegur Pak atau Bu Yadi, omong baik-baik, atau terserah deh, gimana caranya."
"Omong apa tho?" jawab Pak Rahmat, duduk di kursi, memasukkan kaki kanannya ke sepatu hitamnya.
"Ya ampun, kok masih tanya. Lihat sendiri kan, listrik kita mati-hidup sejak subuh. Capek Ibu bolak-balik meng-on-kan. Yah, bukan berarti kita pelit, tapi masa kita harus menahan jengkel tiap pagi?"
Pak Rahmat masih asyik menyisir rambutnya.
"Bapak beli sarapan aja di kantin sekolah. Nasi kita tak mateng-mateng tuh di rice-cooker, karena listriknya anjlok melulu.”
"Ya sudah, mulai besok, kita masak pakai kompor gas saja. Kan kita punya."
"Tapi kan kita juga punya listrik dan magic jar yang lebih praktis!" balas Bu Rahmat dengan nada meninggi.
Awalnya, Bu Yadi yang punya keluarga besar, karena dua menantu beserta anak-anak mereka ikut tinggal di rumahnya, meminta izin Bu Rahmat untuk ikut menikmati listriknya. Daya listrik di rumah Bu Yadi sungguh mustahil untuk memenuhi kebutuhan listrik seluruh kepala di rumahnya. Tiap pagi mereka harus menyalakan generator air untuk mandi, mencuci, memasak, dan menyetrika baju.
Setelah permohonan itu disetujui, di luar sangkaan Bu Rahmat, bencana beralih ke rumahnya. Keluarga Bu Yadi dengan "cerdas"-nya memanfaatkan kabel listrik dari Bu Rahmat untuk keperluan yang berat—menyalakan mesin air dan memanaskan setrika. Alhasil, rumah Bu Rahmat byar-pet.
"Duh, gimana ya ngomong ke mereka biar mereka tak tersinggung atau menuduh kita tak mau berbagi?" Bu Rahmat bingung. Terbayang baju kering yang sudah bertumpuk dan belum tergilas setrika. Terpikir cuciannya yang masih dua ember dan belum ia apa-apakan. Bu Rahmat hanya bisa menyalakan dua bolam di rumahnya. Listrik akan mati tiap ia mencoba nyalakan mesin air atau setrika—pertanda keluarga Bu Yadi sedang memonopoli energi listrik.
Makin kecut lagi, Bu Rahmat baru sadar kalau ia juga belum bisa mandi karena air keburu habis.
"Bu, aku berangkat dulu, ya. Sudahlah, nanti kita ke PLN saja, minta tambah daya," kata Pak Rahmat ringan.
"Huh, tambah daya. Itu tidak 'mendidik' mereka, Pak."
"Itu yang paling praktis."
"Ya, praktis memang, tapi mahal. Kita tak perlu tambah daya. Kebutuhan kita pribadi tidak terlalu besar, kok. Kita cuma perlu sedikit pengertian mereka, Pak. Paling tidak, yah, gantianlah. Biar Ibu tidak stres setiap pagi begini. Ayo dong, Pak. Bapak yang omong ke mereka. Kalau Ibu yang omong, takut malah jadi berantem sama Bu Yadi."
"Iya deh. Entar Bapak yang omong."
"Bener ya, Pak. Awas kalau enggak."
Pak Rahmat hanya tersenyum mendengar ancaman istrinya sebelum ia benar-benar berangkat.
Belum hilang Pak Rahmat dari pandangan, Bu Hari sudah nongol di depan mata.
“Bu Rahmat, masih suka mati kan listriknya kalau pagi-pagi begini? He-he-he."
"Yah, lihat aja sendiri," jawab Bu Rahmat, artinya “iya”.
"Naaah, kalau begitu, daripada mubazir di sini, boleh dong saya pinjam setrika listrik dan rice-cooker-nya. Atau, mesin cucinya? Boleh, kan? Boleh, kan?”
Agus Budiman