Seorang ibu muda, Fara, bercerita dengan bangga tentang bayinya yang baru berusia setahun, Milka. Fara mengatakan, Milka suka sekali dengan iklan TV. Jika di TV muncul iklan, Milka akan tersenyum dan mengoceh, seolah-olah berkomentar atau mengajak bicara si model iklan.
Lain lagi cerita Nita. Putranya yang baru berumur tujuh tahun, Firman, terpikat dengan banyak iklan. Ia ingin membeli biskuit, minuman-makanan ringan, mi instan, handphone, sepatu, dan banyak lagi barang yang dilihatnya dalam iklan TV. Ia meminta Nita mengganti vitamin yang biasa diminumnya dengan vitamin yang ada di iklan. Bahkan, kata Nita setengah geli, “Ia menyuruh saya minum teh pelangsing tubuh saat saya mengeluh badan saya makin gemuk!” Dari mana Firman tahu tentang teh pelangsing itu? Dari iklan tentu!
Ihsan, keponakan saya yang berusia hampir lima tahun, selalu menyebut mi dengan “SBY”. Mau mi goreng, mi rebus atau mi ayam, makanan itu disebutnya “SBY”. Gara-garanya adalah jingle iklan kampanye SBY yang sama dengan jingle iklan Indomie. Saat iklan SBY muncul, Ihsan ingat, lagu iklan itu adalah lagu tentang mi. Karena iklan kampanye SBY gencar sekali, jadilah Ihsan berpikir bahwa mi sama dengan SBY. Sejak iklan SBY muncul itulah, Ihsan mengganti istilah “mi” dengan “SBY”. Semua orang di sekitar Ihsan tak bosan-bosan menjelaskan bahwa yang benar namanya adalah mi, namun Ihsan sampai hari ini berkeras menyebut mi dengan “SBY”.
Anak-anak memang mudah terpikat dengan iklan. Siaran iklan selalu dibuat untuk menyedot perhatian. Modelnya berpenampilan menarik dan camera face. Produk yang ditawarkan dalam iklan selalu tampak lebih menakjubkan, lebih indah, lebih memesona, dan lebih hebat dibandingkan produk sesungguhnya. Jingle iklan menarik untuk didendangkan dan menyanyikannya membuat kita teringat pada produknya.
Gambar iklan selalu close-up, atau paling jauh medium close-up. Pengambilan gambar dalam jarak dekat ini tujuannya untuk menampilkan produk secara detail, sekaligus sebenarnya untuk menarik perhatian.
Secara psikologis, iklan memang dibuat untuk mempersuasi, memengaruhi orang. Semua trik yang digunakan dalam pembuatannya difokuskan untuk satu tujuan: agar orang terpengaruh. Ujung-ujungnya, tentu saja agar orang membeli produk yang ditawarkan.
***
Pada TV-TV komersial, hampir tak ada acara TV yang terbebas dari iklan. Baik kita menonton acara yang serius atau pun semata-mata hiburan, iklan selalu ada. Bahkan, iklan juga muncul dalam apa yang disebut infomercial. Dalam bentuk ini, kita sulit membedakan antara iklan dengan isi informasinya. Keseluruhan informasi yang disampaikan itulah iklan, dan durasinya biasanya jauh lebih panjang dibandingkan iklan-iklan pendek pada umumnya.
Serbuan iklan TV luar biasa banyaknya. Pada acara yang populer, iklan makin berlimpah muncul di layar kaca. Pada beberapa acara anak misalnya, iklan muncul berderet misalnya pada film kartun “Sponge Bob”, “Dora Emon” atau “Naruto”.
Anak-anak, kalangan yang paling mudah dipengaruhi TV, gampang terkena daya rayu iklan. Karena daya kritis mereka belum tumbuh, mereka pun mudah terpedaya iklan dan ujung-ujungnya ingin menikmati barang yang ditawarkan. Maka jadilah mereka membujuk atau merengek pada orangtua untuk minta dibelikan barang seperti di iklan.
Terpikat pada iklan dapat membuat seseorang menjadi konsumtif. Iklan mendorong kita untuk merasa selalu kurang, selalu merasa membutuhkan sesuatu. Akibatnya, kita pun membeli, membeli, dan membeli.
Bagaimana caranya agar iklan tak terlalu memengaruhi anak, kalangan yang sangat rentan itu? Ada dua langkah yang disarankan ahli yang mungkin dapat kita terapkan pada keluarga kita.
Pertama, bisukan iklan. Percayalah, iklan akan kehilangan sebagian daya pikatnya bila tidak dibarengi suara. Iklan dapat dibuat bisu dengan menekan tombol “mute” yang ada di remote control.
Usahakan agar pembisuan ini diterima sebagai syarat untuk menonton iklan TV: “Kalau iklan muncul, matikan suaranya.” Mula-mula, kitalah yang membuat iklan itu bisu. Jadikanlah tindakan itu menjadi kebiasaan. Perlahan-perlahan, ajari anak untuk menekan tombol “mute” itu. Maka kebiasaan itu pun akan menjadi kebiasaan rutin di rumah Anda. Maka iklan pun akan berkurang daya pesonanya dalam keluarga Anda.
Kedua, tontonlah iklan dengan mata lebih kritis. Manfaatkan setiap kesempatan untuk mengajar anak Anda agar menjadi “melek iklan”. Bicaralah dengan anak setiap kali iklan muncul. Ajari anak untuk “membaca” dan “mengkritik” iklan. Misalnya, perbincangkan dengan anak – tentu saja dengan bahasa sederhana – tentang klaim iklan yang seringkali berlebihan, tentang tidak masuk akalnya beberapa pesan iklan, apa gunanya musik pada iklan, dan sebagainya.
Ajarkan anak-anak tentang jurus-jurus periklanan. Ajarkan anak misalnya tentang mengapa semua rambut di iklan shampo tampak selalu hitam, sangat lurus dan indah, tentang mengapa semua iklan minuman tampak sangat menggiurkan dengan bulir-bulir es yang menempel pada gelas dan botol minumannya, tentang mengapa jerawat sangat mudah dihilangkan pada iklan obat anti-jerawat, tentang mengapa noda di baju begitu mudah sirna pada iklan detergen, tentang mengapa ini dan mengapa itu.
Menurut ahli, begitu anak memasuki usia sekolah, menjadi kritikus iklan yang jeli bisa sangat mengasyikkan sekaligus memperkuat ketahanan terhadap daya pikat iklan. Karena rasa keadilan anak-anak sendiri sangat tajam, mereka bisa marah pada iklan-iklan yang kurang jujur.
Mengajari anak untuk “melek iklan” membuat seorang anak belajar untuk tidak mudah terpengaruh iklan dan menjadikannya konsumen yang cerdik. Ini penting, karena membuat anak berlatih untuk mengenali apa yang benar-benar menjadi kebutuhannya, bukan dijajah oleh keinginan yang tumbuh akibat iklan, dan berlatih hidup hemat.
***
Langkah-langkah untuk menangkal efek iklan perlu dilakukan di rumah kita. Tujuannya agar anggota keluarga kita tidak menjadi “budak iklan” atau “korban iklan”. Kalau anak kita menjadi “korban iklan”, kita juga yang repot kan?
Nina Mutmainnah Armando
Hadits Arba’in Nomor 26, Bagian Kedua
Di antara kandungan ...
Dokter, bagaimana cara mengatasi kuku jempol kaki saya yang selalu tumbuh ...
Assalamualaikum, Dok, apa sih ciri-ciri awal terserang kanker kulit? Apakah ini ...
Assalamualaikum
Dok, bagaimana cara menghilangkan kantung di bawah mata yang menghitam? ...
Assalamu’alaikum,
Dokter Inong, anak gadis saya yang berusia 12 tahun mempunyai bentuk ...
oleh Ahmad Kusyairi Suhail
"..Dan pergaulilah istri-istri dengan baik ...





Pengunjung hari ini : 196
Total pengunjung : 77709
Hits hari ini : 546
Total Hits : 267516
Pengunjung Online: 5Copyright Ummi-Online.com - 1 Januari 2010 / 14 Muharam 1431 H - All rights reserved