Majalah Ummi Digital - Ummi: Identitas Wanita Islami

Kamis, 01 April 2010 - 10:34:57 WIB
Dra Juniwati Masjchun Sofwan, Lantang Melawan Pornografi dan Korupsi
Edisi : No.9 Tahun XXI | Rubrik: Tamu Kita | Dibaca: 272 kali

Politik dekat dengan uang? Anggota Komisi I Dewan Pertimbangan Daerah Republik Indonesia (DPD  RI), Dra Juniwati Masjchun Sofwan pernah mengalaminya. Beruntung, sang Khalik segera memberi alarm. Saat itu, rekannya tiba-tiba berniat berkunjung ke rumah. Awalnya ia menyanggupi. “Tak lama, saya sadar dia butuh suara saya. Terpaksa saya berbohong mau keluar kota,” ujarnya.

 

            Realita tadi toh tidak menyurutkan niat Juniwati mewujudkan politik yang bersih. Caranya, dimulai dari diri sendiri. Wanita yang memilih menjadi anggota DPD ketimbang DPR karena dapat menyalurkan aspirasi sesuai hati nurani ini, menilai penting membentengi diri dari suap dan korupsi. Sebab, sekali melakukannya maka kita akan terjerumus dan sulit keluar. “Saat ini, suap tak lagi pakai amplop. Tapi pakai tas!” seru wakil ketua Kaukus Anti Korupsi DPD RI itu dengan mata membelalak.

 

Dipecat dari partai, disuap sampai dimusuhi teman

            Hidup dalam keluarga yang dekat dengan politik membuat Juniwati tak sulit mengikuti jejak sang ayah, Dr Iskandar Tedjasukmana, Msc, mantan menteri perburuhan di era Presiden Soekarno. Ia sudah melalui manis pahit berkecimpung di dunia ini.

            Salah satunya, dia pernah dibuat menangis ketika Akbar Tandjung, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar saat itu, memecatnya bersama tujuh rekan lain pada 2004. Alasannya, mereka menolak menyetujui rencana ketua umum ‘menjual’ partai untuk mendukung pihak lain. Sementara yang bersangkutan memiliki catatan tidak baik.

Sontak keberaniannya itu menuai keprihatinan, khususnya dari para wanita senior pengurus Golkar. Mereka memohon Juniwati mencabut pernyataannya dan berbalik mendukung ketua umum. Bukannya luluh, ia malah balik melawan. “Mbak, kalau ke sini cuma mau membicarakan itu, pulang saja, deh,” ujarnya kala itu.

Hal yang membuat Juniwati terzalimi bukan karena kehilangan jabatan di partai. Tapi, satu per satu rekan sejawat mundur tak mau menyapa. “Saya sedih, sebab teman saya banyak di partai. Mulai dari bidang perempuan sampai pendidikan,” akunya dengan mata berkaca-kaca.

Hidup memang penuh kejutan. Tiga bulan berselang, Jusuf Kalla terpilih sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar menggeser Akbar Tandjung. Namanya direhabilitasi, ia  kembali mengurus partai. Tak tanggung-tanggung, kali ini dia mendapat amanah Ketua DPP Partai Golkar bidang perempuan, budaya dan wisata.

Sejak saat itu dirinya berkomitmen tak mau berteman di komunitas politik saja. “Saya berkesimpulan berteman di partai itu tidak ada yang murni,” kata ibu tiga anak yang kini memiliki banyak teman dari berbagai latar belakang dan kalangan.

            Itu tadi sekelumit perjuangan Juniwati berkecimpung di dunia politik. Tempat yang menurut kebanyakan orang penuh intrik, kejam dan keras. Tapi dia tetap berdiri tegar menjalankan profesinya selama 27 tahun.

 

Keras suarakan anti pornografi

Hasil penelitian yang menyebut Indonesia surga penyebaran materi pornografi kedua di dunia setelah Swedia menyulut nuraninya. Komite Indonesia untuk Pemberantasan Pornografi dan Pornoaksi (KIP3) bentukan MUI yang diketuai Juniwati merapatkan barisan.

Mereka membuat jaringan ke wilayah yang tinggi tingkat pornografinya, menyosialisasikan bahaya dan mendidik masyarakat melek tayangan layak tonton. Organisasi ini aktif melayangkan protes dan kampanye anti pornografi. Bahkan, nenek dari enam cucu itu sempat naik ke atas truk saat melakukan aksi demo ke salah satu stasiun televisi swasta dan raja sinetron Ram Punjabi.

Awalnya, gerakan ini mendapat dukungan masyarakat. Pro dan kontra timbul saat pihaknya mendesak DPR mengesahkan Undang-undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (UU APP).

Kita mungkin masih ingat pergolakan Rancangan UU APP (RUU APP) yang sempat bikin kontroversi ini. Nama Juniwati langsung mencuat saat itu. Uniknya, pihak yang paling kencang berpolemik justru sesama wanita.

Ia sampai bermusuhan dengan aktivis perempuan. Padahal, keduanya terbilang akur saat mendorong pemerintah memberi kursi 30 persen untuk kaum hawa di panggung politik.

            Wanita kelahiran 1 Juni 1947 itu bahkan sempat ‘diadili’ aktivitis perempuan. Mereka menilai Juniwati mengkriminalisasi hak perempuan. Ia langsung bereaksi, “Kalau saya diundang untuk diadili, lebih baik saya pulang. Seharusnya kita berdiskusi terkait pasal yang termasuk wilayah privasi, harus dikeluarkan atau dipertimbangkan,” ujarnya saat itu.

            Upaya menggolkan RUU APP menjadi undang-undang butuh waktu empat tahun. Perjuangan tak berakhir sampai di situ. Ia dan kawan-kawan masih harus bersabar. Sebab, saat ini pihak yang kontra membawa UU APP ke Mahkamah Konstitusi (MK) untuk di yuridisial review (dikaji ulang, red). Nah, selama menunggu putusan MK, otomatis UU APP tak bisa ditegakkan.

Bendahara MUI ini menilai, maju mundurnya pelaksanaan undang-undang ini karena ada pihak yang mengaitkannya dengan isu politik, agama sampai budaya. Padahal, tujuannya murni melindungi masyarakat dari bahaya pornografi dan pornoaksi lewat media massa, internet, DVD, ponsel. “Kata siapa UU ini menghambat budaya? Tidak ada pasal dalam UU APP yang selama ini jadi kekhawatiran mereka. Tari Bali silakan, tapi kalau tak mengenakan baju, tentu saja tidak boleh,” katanya berapi-api.

 

Bermimpi jadi pemimpin

            “Sedari kecil saya bercita-cita jadi pemimpin,” aku anak ketiga dari lima bersaudara ini. Keinginannya timbul karena mengagumi sosok orangtuanya. Sang ayah, Dr Iskandar Tedjasukmana, Msc, Wakil Ketua Komite Nasional Indonesia untuk Persiapan Kemerdekaan (KNIP) bersama bung Karno berjuang memerdekakan negara ini. Di zaman pemerintahan Soekarno dan Soeharto, ia menjabat sebagai menteri dan anggota DPR Gotong Royong.

            Sementara sang ibu, Mariam Tedjasukmana, tipe wanita aktif. Dirinya dikenal dermawan dan mandiri. Kepribadian kedua orangtuanya begitu melekat sampai terbawa dalam keseharian Juniwati. “Kalau main sama teman, saya jadi guru, mereka murid. Pokoknya saya pemimpinnya,” ujarnya sembari tersenyum mengenang.

            Ia tumbuh menjadi anak pemberani dan idealis. Batin wanita kelahiran Yogyakarta, 62 tahun lalu itu selalu tak nyaman setiap melihat kezaliman dan ketidakadilan. “Saya tak bisa tinggal diam dan akan berjuang melawannya,” tegas alumni Universitas Indonesia jurusan Psikologi ini.

            Saat SD, misalnya, ia pernah membela temannya yang sering jadi bahan ejekan. “Saya tantangin dia. Memang kamu ini siapa?” katanya sambil berkacak pinggang.

            Uniknya, untuk menggapai mimpinya itu, Juniwati memilih memperdalam psikologi. “Pemimpin yang baik adalah mereka yang paham psikologi. Ilmu dasar manusia,” ujar  wanita yang saat ditemui Ummi baru dilantik sebagai sekretaris tim Pengkajian dan Pemantauan Kasus Bank Century, sebuah amanah yang lumayan berat.

Rindu dukungan suami

            Sudah lima tahun Juniwati tak lagi mendengar suara manja dari suami tercinta, Masjchun Sofwan. Pria yang terpaut usia 23 tahun lebih tua darinya itu divonis dokter mengidap dementia (pikun). Padahal, di saat kondisi politik naik turun, wanita yang hobi main piano ini perlu teman berkeluh kesah dan berbagi pendapat. “Saya kangen bapak,” ujarnya lirih.

            Ia kembali teringat kenangannya bersama mantan gubernur Jambi itu. Setelah menikah, suami pernah bertanya, siapa yang akan mengurusnya saat tua. “Saya langsung jawab, Ya saya dong, Mas!” katanya sembari menerawang.

Kini, pernyataan itu terdengar bagai sumpah di hadapan Allah swt. Ia pun telaten merawat suaminya yang hanya bisa berbaring walau jadwalnya padat. Bahkan, ia rela memboyong suami ke Jambi selama tiga bulan masa kampanye, meski kondisinya lemah. “Saya tenang jika bapak berada dekat dengan saya,” aku peraih Satya Lencana bidang Bakti Sosial ini

Juniwati mengaku menutup hatinya di awal perjumpaan dengan suami. Selama setahun, Masjchun mengirimkan surat dan kartu ucapan. Namun tak satu pun ditanggapi. Lalu, pria itu menyampaikan niatnya bertamu ke rumah “Tetap tuh, saya tidak luluh,” ujarnya sembari terkekeh.

Allah membukakan pintu hati setelah ia bertahajud memohon petunjuk. ”Bapak sosok yang baik, disiplin dan berdedikasi tinggi. Dia penyemangat saat saya mengeluh, memberi ruang kepada saya untuk mengaktualisasikan diri,” kenangnya haru.

 

Laksanakan wasiat, buka perpustakaan

            Juniwati dikenal kutu buku. Kegemarannya itu berawal saat sang ayah memboyong keluarga ke negeri Paman Sam untuk meraih gelar PhD. Selama enam tahun di Amerika, ia banyak menghabiskan waktu untuk membaca. “Di sana saya bisa membaca sepuasnya. Fasilitasnya banyak, mulai dari perpustakaan sampai toko buku fiksi,” katanya.

            Karena itulah, Juniwati mendapat kepercayaan menjaga koleksi buku sang ayah yang kini tersusun rapi di rumahnya. Amanah itu sempat tertunda karena kesibukannya yang padat. Rencananya, ia akan membuka Perpustakaan Al-Iskandari di bawah naungan Yayasan Pembangunan dan Pendidikan Dr Iskandar Tedjasukmana pada pertengahan 2010.

            Nantinya, di tanah seluas 500 meter persegi itu tak hanya berisi koleksi sang ayah tapi juga bukunya. Saat ini, sudah terkumpul 2.000 buku dengan tema beragam, mulai dari agama, psikologi, politik, pemberdayan perempuan, sampai media. Sementara buku sang ayah umumnya tentang ilmu manajemen berbahasa Belanda.

            “Berdirinya perpustakaan ini sebagai wujud kecintaan saya terhadap buku, sekaligus melunasi utang saya kepada bapak,” akunya sembari tersenyum.

Ratna Kartika

 

 

 

 

 

 

 

                                        

             

 

 

 

 

 

           

 


Buat link artikel ini pada:

Artikel Sebelumnya
0 Komentar :

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar :
 
 (Masukkan 6 kode diatas)