Majalah Ummi Digital - Ummi: Identitas Wanita Islami

Senin, 01 Maret 2010 - 11:22:52 WIB
Berwudhu Tanpa Melepas Kerudung
Edisi : No.8 Tahun XXI | Rubrik: Fikih Wanita | Dibaca: 2314 kali

Assalamualaikum,

Bu Herlini, saya sering lihat rekan-rekan di tempat kerja saya berwudhu tanpa membuka jilbab/kerudungnya. Karena cara berkerudung yang ribet dan banyak pakai peniti mereka malas membukanya. Pertanyaan saya:

1.   Apakah sah wudhu yang hanya diusap-usapkan saja? Jadi tangan yang basah disusup- susupkan ke dalam kerudung saja?

2.   Kalau bertayamum di dalam bus sebagai tempat umum, bagaimana kita mengusap tangan?   Apakah lengan baju harus dibuka yang berarti aurat juga jadi kelihatan? Mohon       penjelasannya.

Wassalamualaikum.

 Henny Lilyanti, Ciamis

 Jawaban

      Tentang wudhu telah dijelaskan Allah dalam QS Al-Maidah: 6: "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub, maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur."

     1.Wamsahuu biruusikum (sapulah kepalamu), para ulama berbeda pandangan dalam mengartikan imsah:

a.     Bisa berarti menyapu seluruh kepala sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Zaid yang diriwayatkan oleh Jamaah: Nabi saw menyapu kepala dengan kedua tangannya, lalu beliau menggerakkan kedua tangannya dari muka hingga ke belakang. Maksudnya beliau saw menyapukan kedua tangannya yang telah dilekatkan ke kepala mulai dari bagian depan kepalanya, lalu beliau menarik kedua tangannya ke arah pundak, kemudian ditarik kembali hingga ke tempat permulaan memulai sapuan kepala.

b.  Bisa berarti menyapu bagian surban saja sebagaimana dalam hadits Amar bin Umaiyah, "Saya melihat Rasulullah saw menyapu surban dan kedua sepatunya – ketika berwudhu." (HR Ahmad, Bukhari, Ibnu Majah). Dalam riwayat Bilal, Nabi saw bersabda, "Sapulah kedua sepatumu dan khimar–kerudung atau penutup kepala." (HR Ahmad)

c.         Bisa berarti menyapu ubun-ubun serta surban sebagaimana hadits Mughiroh bin Syubah, bahwa Nabi saw berwudhu lalu beliau menyapu ubun-ubun, surbannya, dan demikian pula kedua sepatunya. (HR Muslim)

             Dari penjelasan ini, muslimah yang memakai kerudung bisa saja mengusap kepalanya/ubun-ubunnya, lalu mengusap juga kerudungnya ketika berwudhu di luar rumah.

     2. Cara bertayamum dalam hadits Ammar ra, "Aku junub dan tidak mendapatkan air, maka aku pun bergelimangan dengan tanah, lalu shalat. Kemudian aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah saw, beliau pun bersabda, "(Dalam bertayamum) cukuplah engkau melakukan seperti ini: beliau meletakkan kedua telapak tangannya ke tanah, lalu beliau meniup kedua belah tangan yang dipenuhi debu, lalu menyapukan ke bagian muka dan kemudian menyapukan ke kedua tangannya." (HR Bukhari dan Muslim)

            Hadits lain yang diriwayatkan Daruquthni, "Cukuplah bila engkau pukulkan kedua telapak            tanganmu ke tanah, lalu tiuplah tangan yang sudah dipenuhi tanah tersebut dan kemudian sapukan ke muka dan ke kedua tanganmu hingga pergelangan." Berdasarkan hadits ini, maka tangan yang diusap debu itu hanya sampai pergelangan saja.

 

Mitos Jawa, Dituruti atau Tidak?

 Bu, saya sudah pacaran selama 1 tahun dengan seorang pria. Namun, kami tidak direstui orang tua karena kepercayaan mereka terhadap mitos Jawa. Katanya arah rumah dia tidak bagus buat saya dan hari kelahirannya juga tidak cocok dengan saya. Kalau dilanjutkan hubungan ini, katanya rumah tangga kami akan selalu ditimpa musibah.

 

1.     Apakah kepercayaan ini mesti dituruti? Bila bertentangan dengan Islam, bagaimana mengomunikasikannya dengan orang tua dan saya tetap melanjutkan hubungan ini karena saya sudah merasa cocok dengan pria tersebut?

2.     Pacar saya itu mengaku sudah tak perjaka, tapi dia sekarang menyesal. Bagaimana sikap saya sebaiknya?

 Asmaul Husna, Surabaya

 Jawaban

 Nanda Asma yang baik, perlu ditegaskan bahwa Islam tidak mengenal 'pacaran', sebab Islam sudah mengatur hubungan antarlawan jenis yang bukan mahram, antara lain kewajiban menjaga pandangan (QS An-Nur: 30-31) dan tidak dibenarkannya berdua-duaan (berkhalwat) tanpa mahram, dan lain-lain. Hal ini adalah sebagai tindakan preventif (pencegahan) agar tidak terjerumus ke dalam perzinaan dan Allah telah melarang kita mendekati zina (QS Al-Isra: 32), "Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." Sebaiknya jika sudah cocok maka segera saja menikah untuk menghindari perbuatan yang dapat melanggar syariah.

Mengenai pertanyaan yang Nanda ajukan, jawabannya sebagai berikut:

      1.Mitos dan kepercayaan tersebut jangan dituruti, karena masa depan dalam kehidupan seseorang tidak ada hubungannya dengan arah rumah dan hal-hal yang terkait dengan benda-benda di sekitar kita. Manusia tidak diberikan ilmu oleh Allah dalam hal masa depan yang belum terjadi, sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Isra: 34, "Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

 Maksud ayat tersebut adalah manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, tapi mereka diwajibkan berusaha. Begitu juga dengan ikatan dalam rumah tangga, apakah akan terus langgeng pernikahan tersebut atau bubar dalam perjalanan, hanya Allah yang tahu. Namun, sebagai manusia kita harus berusaha untuk mewujudkan kelanggengan rumah tangga tersebut. Musibah dalam rumah tangga tidak akan terjadi hanya karena faktor arah rumah seseorang. Dalam QS At-Taghabun: 11, Allah berfirman, "Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."

                       

Coba ajak orang tua membicarakan hal ini dengan bahasa yang lembut dan tidak menggurui. Kalau perlu, mintalah tolong pada pihak ketiga seperti tokoh agama yang disegani oleh orang tua untuk membantu Nanda menjelaskan masalah ini dan berdoa       terus kepada Allah semoga Dia memberi hidayah kepada orang tua Nanda.

        2. Zina adalah salah satu dari dosa-dosa besar, sebagaimana dalam QS Al-Furqon: 68-69, "Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). Yakni akan dilipatgandakan azab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu dalam keadaan terhina."

Kecuali, jika ia bertobat dengan sebenar-benar tobat sebagaimana lanjutan ayat di atas, yakni QS Al-Furqon: 70, "Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman dan mengerjakan amal shalih, maka kejahatan mereka itu diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

 Seseorang yang bertobat, menurut Ibnul Qoyyim, akan menyesali perbuatan dosanya tersebut lalu berjanji tidak akan mengulangi lagi. Lalu, dia pun akan meningkatkan amal ibadahnya dan berusaha memperbanyak kebaikan-kebaikan sebagai bentuk tobat kepada Allah. Lantas bagaimana sikap Nanda? Tentu saja semuanya terserah Nanda. Namun, yang perlu dicatat di sini adalah bahwa kita tidak bisa menilai orang hanya dari tampilan di depan kita saja (apalagi terhadap pacar), sebab amat mungkin perilaku yang ditampakkan kepada orang yang dicintai bukanlah perilaku sesungguhnya.

            Jika Nanda ingin menggali lebih dalam lagi tentang pacar Nanda tersebut, informasi bisa didapat dari orang lain yang lebih banyak berinteraksi dengannya, terutama orang yang tidak tahu hubungan Nanda dengannya. Dari informasi tersebut Nanda dapat menyimpulkan sendiri apakah dia telah bertobat atau tidak.


Buat link artikel ini pada:

Artikel Sebelumnya
0 Komentar :

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar :
 
 (Masukkan 6 kode diatas)