Majalah Ummi Digital - Ummi: Identitas Wanita Islami

Senin, 01 Maret 2010 - 11:03:29 WIB
Bisnis di Daerah Pertanian
Edisi : No.8 Tahun XXI | Rubrik: Keuangan | Dibaca: 491 kali

Assalamualaikum,

Saya tinggal di daerah pertanian. Bisnis apa yang kira-kira bisa dijalankan di daerah ini ya, Pak? Saya sudah melakukan berbagai usaha, dari dagang, bertani, dan sebagainya, tapi belum berhasil, seolah-olah belum ketemu jalannya. Kenapa begini dan langkah apa yang harus saya lakukan? Mohon penjelasannya.

Wassalamu’alaikum.

 

Askom, via SMS

 

Jawaban

Ada dua kemungkinan penyebab belum berhasilnya beberapa usaha Anda. Bisa jadi karena Anda memang belum menemukan usaha yang paling tepat, yaitu usaha yang sesuai dengan keahlian Anda dan kebutuhan konsumen. Kedua, mungkin bukan bisnisnya yang salah pilih, tapi cara Anda menjalankannya yang kurang tepat, baik itu strategi maupun upaya yang belum maksimal.

Teruslah belajar, karena bisnis terus berubah dan berkembang. Lakukan juga evaluasi terhadap kegagalan Anda di masa lalu, karena kegagalan seharusnya menjadi guru untuk mendapatkan jalan yang lebih baik. Kalau memang bisnis sejenis bisa survive di daerah yang sama, berarti bukan jenis usahanya yang salah pilih melainkan pengelolaannya yang bermasalah. Namun, kalau bisnis yang sejenis juga ternyata tutup, bisa jadi pasarnya yang tidak sesuai.

Untuk daerah pertanian, Anda perlu berpikir lebih luas. Kalau selama ini orang berpikir menjadikan para petani sebagai target market-nya, bagaimana kalau kini Anda buka juga kemungkinan petani menjadi supplier-nya. Cari peluang untuk meningkatkan hasil pertanian agar lebih mudah dijual atau ditingkatkan nilai jualnya. Misalnya, dari cabai menjadi bubuk cabai kering yang bisa lebih tahan lama dan bisa langsung dikemas sesuai pesanan dengan harga yang lebih tinggi.

 

 

 

Gadai Syariah

 

 

Pak, kerabat saya membuka usaha gadai syariah. Bila saya ikut berinvestasi di pegadaian tersebut, bagaimana hukumnya?

 

Sa’adah, via SMS

 

Jawaban

 

Sebelum bergabung ke dalam sebuah bisnis, baik itu sebagai investor, karyawan, maupun manajemennya, kita harus tahu bisnis yang dijalankan tersebut baik atau tidak. Kalau bisnis tersebut baik, dan halal tentunya, maka hukumnya juga halal untuk berinvestasi. Untuk itu, pastikan bahwa bisnis tersebut memang menjalankan sistem gadai secara syariah.

Apa perbedaan antara gadai syariah dan gadai biasa? Kalau gadai biasa, transaksinya adalah memberikan pinjaman uang tunai, yang dikembalikan plus bunga, dengan jaminan barang tertentu yang digadaikan. Sedangkan gadai syariah tidak mengenakan bunga. Konsumen meminjam uang dan mengembalikan uang dengan jumlah yang sama. Lalu dari mana keuntungannya? Keuntungannya diperoleh dari barang yang digadaikan, yaitu dengan mengenakan biaya sewa penyimpanan barang yang digadaikan.

Dalam gadai biasa, karena sistemnya membungakan uang, biaya yang dikenakan pada nasabahnya adalah persentase tertentu dari nilai uang yang dipinjam oleh nasabah. Sementara gadai syariah, karena biaya yang dikenakan adalah sewa penyimpanan barang, nominalnya adalah persentase tertentu dari nilai barang yang digadaikan.

Selain penting untuk memastikan kehalalan usahanya, Ibu juga perlu memastikan bahwa transaksi investasi antara Ibu dan kerabat Ibu juga halal, yaitu dengan mekanisme investasi bagi hasil bukan bunga. Keuntungan yang Ibu terima adalah persentase dari keuntungan usaha, bukan persentase dari besarnya modal yang disetorkan.

 

 

 

Manajemen Utang

 

 

Assalamualaikum,

Pak Gozali, saya seorang guru dan suami saya wiraswasta, tapi mengapa kami selalu punya utang yang tak ada habisnya ya? Tolong beri saran bagaimana mengatur keuangan agar kami tak selalu dililit utang.

Wassalamualaikum.

 

Tri, via SMS

 

Jawaban

Ibu Tri, sayang sekali Anda tidak menyebutkan secara lebih detail penyebab dan tempat Anda berutang, karena kedua hal ini menentukan solusi yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah Anda.

Jika utang dibuat untuk menunjang usaha suami Anda, maka itu adalah utang usaha dan tidak ada hubungannya dengan mengelola keuangan keluarga--yang perlu dievaluasi adalah manajemen usahanya. Namun, kalau berutang untuk keperluan keluarga, maka Anda perlu mengevaluasi pengelolaan keuangan keluarga Anda selama ini.

Asumsi saya, hal ini terjadi mungkin karena sumber pemasukan yang tidak selalu sama setiap bulannya. Ketika penghasilan tinggi, biasanya kita juga ikut meningkatkan pengeluaran. Namun, ketika penghasilan sedang turun, rasanya sulit sekali mengurangi pengeluaran karena sudah terbiasa dengan gaya hidup sebelumnya. Hal ini biasanya banyak terjadi pada para pengusaha atau profesional yang penghasilannya tidak pasti.

Kita perlu waspada bila memiliki kemudahan dalam berutang, yang biasanya kita lakukan untuk menutupi kekurangan pada bulan-bulan tertentu. Kebiasaan ini membuat kita merasa tidak punya masalah, hingga saat penghasilan tak kunjung membaik barulah kita sadar kalau saldo utang sudah menumpuk.

Saran saya, bagilah pengeluaran Anda menjadi 2 macam, yaitu pengeluaran yang sifatnya pasti jumlahnya dan pengeluaran yang sifatnya fleksibel jumlahnya. Pengeluaran yang pasti misalnya cicilan utang, SPP anak, dan sebagainya, sedangkan yang fleksibel adalah biaya makan, transport, hiburan, dan sebagainya. Nah, biaya yang pasti tersebut dialokasikan dari gaji guru yang rutin, sedangkan biaya yang tidak pasti jumlahnya dialokasikan dari penghasilan suami, yang juga tidak pasti jumlahnya. Dengan cara ini, pengeluaran yang sudah tetap bisa dibiayai dari sumber yang tetap sehingga tidak perlu lagi berutang, dan pengeluaran yang fleksibel bisa mengikuti penghasilan yang juga fleksibel.


Buat link artikel ini pada:

Artikel Sebelumnya
0 Komentar :

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Komentar :
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 

Iklan

Ummi Terbaru

Majalah Ummi di Facebook

ShoutMix chat widget
Pengunjung

216160

Pengunjung hari ini : 143
Total pengunjung : 61962

Hits hari ini : 384
Total Hits : 216160

Pengunjung Online: 8