“Bukannya kita janjian jam 10.00? Saya jadi buru-buru kembali ke rumah, nih,” sapa M Subki Al-Bughury, S.Sos.I sembari terengah-engah memasuki ruang tamu. Pagi itu, Ummi datang lebih awal ke rumahnya dari waktu yang telah direncanakan.
Ustadz muda ini menyambut ramah kedatangan Ummi di kediamannya di kawasan Kemanggisan, Jakarta Barat. Pria yang berpenampilan khas dengan kacamata dan senyuman meneduhkan itu sering muncul di layar kaca bersama artis komedi. Sebut saja, Ucok Baba pada segmen Ramadhan Gerebeg Sahur Lativi (2003), Komeng dan Adul lewat tayangan Wara Wiri Ramadhan (WWR) di Trans7 pada Ramadhan lalu. Nah, di WWR, Subki tampil berbeda. Ia dituntut mampu beradu akting dengan dua artis komedi tadi meski hanya memainkan lakon dirinya sendiri.
Melihat metode dakwahnya yang berbeda, apa ia tak takut dikritik ustadz lain yang tidak sepaham dengan visinya mengombinasi dakwah dengan komedi? Subki tersenyum. Suami Hj Etty Supriyati itu menjelaskan, penelitian menunjukkan semua hal yang ditampilkan lewat audio visual mampu terserap ke dalam memori manusia sebanyak 70 persen. Artinya, pesan melalui audio visual lebih mudah diterima masyarakat.
“Jadi, semua itu pilihan. Mari terapkan cara berdakwah yang menurut kita bisa menyampaikan nilai-nilai Islam ke masyarakat. Orang mau mengkritik tidak apa-apa. Hal terpenting, kita sudah berbuat dan berusaha membuat orang mengenal Islam,” kata lelaki yang gemar olahraga ini.
Ayah lima anak lulusan Institut Agama Islam Al-Aqidah (IAIA) ini memilih tema skripsi tak jauh dari dunia seni peran. Judulnya, Peranan Sinetron dalam Islam. Di dalamnya terdapat petikan karya tulisan Yusuf Qardhawi tentang seni peran dalam Islam.
Menurut Subki, Allah saja mengajarkan Islam dalam drama seperti yang tertuang pada Al-Quran. Masih ingat ketika Qabil membunuh saudaranya? Saat itu, dia bingung bagaimana mengubur jenazah saudaranya. Kemudian Allah mengutus dua burung gagak, keduanya bertempur lalu salah satunya mati. Lantas burung gagak yang masih hidup menggali tanah untuk mengubur temannya yang mati.
Ia bersyukur program WWR mendapat tempat di hati pemirsa. Buktinya, program yang lekat dengan unsur entertainment (hiburan, red) tersebut mampu menduduki top rating selama Ramadhan. Untuk mengetahui pesan dakwahnya mudah dipahami, Subki mengetes pemahaman Ummi sembari menggambarkan setting drama salah satu episode WWR.
Kisah berawal saat Komeng dan Adul berencana menginap di rumah Ustadz Subki. Permintaan itu disambutnya dengan tangan terbuka. “Boleh, tapi jangan ribut. Jangan ganggu saya tidur. Soalnya, nanti malam saya mau tahajud. Sekarang kan sudah masuk sepuluh malam terakhir Ramadhan. Nanti kamu, saya bangunin juga,” ujarnya.
Adul bertanya, “Ustadz, kan sunnah ya kalau mau tidur sikat gigi dulu dan wudhu?” Mulai dari sini, satu per satu pesan dan pemahaman Islam yang diambil dari petikan ayat Al-Quran dan hadits mengalir di tiap babak.
Lalu Komeng berkata, “Ustadz, saya suka mimpi buruk kalau tidur di rumah orang.”
Ustadz menjawab, “Baca saja a'udzubillahi minasy syaithonirrojim. Kemudian, meludah ke kiri tiga kali dan jangan cerita ke orang lain.”
Ketika tidur, Komeng mimpi buruk. Dia langsung melakukan semua saran ustadz termasuk meludahi Adul yang kebetulan tidur di sebelah kirinya. Mereka pun bertengkar. Adul mengeluh, “Saya diludahi kok malah dibilang enggak ngerti agama, Ustadz?”
Subki segera meluruskan bahwa meludahnya dengan isyarat saja atau tidak perlu benar-benar dilakukan. “Bagaimana, paham tidak? Kira-kira, pesannya sampai atau tidak?” tanyanya kepada Ummi.
Dibimbing Allah berkat doa orangtua
Siapa sangka pria yang kini dikenal sebagai ustadz kondang itu dulunya pernah melalui masa remaja kelabu. “Saya tinggal di pinggiran Jakarta, tempat saya tinggal menjadi lokasi 'empuk' bagi mereka yang mau beli narkoba,” katanya.
Berbagai bentuk kenakalan remaja pernah ia lakukan mulai dari maling mangga sampai tawuran. “Saya baru berhenti merokok saat duduk di bangku kelas 3 SD. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana lingkungan tempat saya dibesarkan,” ujar pria kelahiran Bogor itu.
Meski sempat melakukan hal tak terpuji, ia merasa selalu dibimbing Allah swt. “Setiap ada ajakan berbuat tidak baik, saya selalu merasa hati ini tidak berada di sana. Teman-teman maling mangga, saya tidak ikut makan. Saat Ramadhan, setelah jualan kantong kresek di Masjid Istiqlal, teman minum es, saya masuk masjid,” ceritanya.
Ternyata, ada kekuatan doa orangtua dibalik perlindungan Allah swt. Mereka tak henti memanjatkan doa untuk keselamatannya. Setelah menjadi ayah, ia pun melakukan hal yang sama. Setiap saat bibirnya tak pernah kering memanjatkan doa surat Al-Ahqaf ayat 15 dan Al-Furqon ayat 74. “Perbaikilah anakku...,” kata Subki mengutip doa yang sering dilantunkan orangtuanya.
Hidupnya mulai berada di jalur yang benar saat duduk di bangku SMA. Alumni SMAN 33 Cengkareng Jakarta ini aktif mengikuti kegiatan keagamaan mulai dari tarbiyah sampai halaqoh. “Saya bersama tiga teman lainnya dipercaya guru untuk mengisi khutbah Jumat,” akunya bangga.
Menurut pria yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Muhammad Ibn Su’ud Riyadh Kingdom Of Saudi Arabia, Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Arab (LIPIA) ini, ada kenikmatan tersendiri saat mengisi ceramah. Perasaan bahagia mencerahkan kalbunya setiap melihat teman wanitanya satu per satu mengenakan jilbab. “Banyak yang mengaku senang mendengar ceramah saya. Saya jadi tambah semangat. Lalu, bersama teman-teman, saya membentuk himpunan siswa Islam di sekolah pada 1988-1990,” urainya.
Ayat-ayat Allah memotivasinya untuk fokus berdakwah. Seperti petikan surat Fushshilat ayat 33, “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” Juga, surat An-Nahl ayat 125 yang berbunyi, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Menurutnya, ketika kita mengajak orang lain ke jalan kebaikan dan orang tersebut mengikutinya maka kita akan mendapat pahala sama dengan orang yang telah menemukan jalannya. “Dari situ saya termotivasi, tidak lagi berpikir bahkan membayangkan menjadi ustadz tidak berprospek cerah karena tidak menghasilkan uang,” jelasnya.
Menurut ketua Majlis Dzikir Al-Ma’tsurat ini, keberhasilannya sebagai pendakwah tak terlepas dari doa dan dukungan orangtua. Dari situlah dia mampu membiayai haji orangtuanya. “Apakah saya sudah membuat mereka bangga, saya tidak tahu? Pastinya, kebanggaan saya mutlak adalah saat mampu membiayai mereka menunaikan ibadah haji,” ujar anak pasangan Sugandi Syu'aib dan Salkah Sa'ad ini.
Selalu husnudzon kepada Allah
Dalam menjalani hidupnya, Subki selalu husnudzon kepada Allah. Buktinya, meski dia menganggap berumrah dan haji bagai mimpi yang sulit diraih, Allah menjawab doa dan memberinya kesempatan.
Doa lainnya, Subki pernah memohon kepada Allah agar nikah muda, cepat dapat kerja sekaligus kuliah. Ternyata, sang Khalik mengabulkan permintaannya. Ia bertemu sang pujaan hati saat usianya 21 tahun. Ketika itu, dirinya masih berstatus mahasiswa dengan penghasilan hanya Rp125 ribu per bulan.
Tak lama setelah menikah, Allah menganugerahkan mereka buah hati. Untuk menambah penghasilan, sang istri membantunya bekerja paruh waktu di percetakan. “Istri saya bekerja mulai jam 9.00 sampai 12.00. Nah, jam 12.00 sampai 17.00 giliran saya menggantikannya,” ujarnya sembari tersenyum mengenang.
Pembagian tugas ini mereka lakukan sebab Subki kuliah setiap pagi sementara selepas jam 12.00 sang istri berkesempatan menyusui. Tantangan tak berhenti sampai di sana, roda kehidupan terasa semakin berat.
Di sisi lain, jalan untuk meneruskan pendidikan kian terbuka. Ia berkesempatan meraih beasiswa di LIPIA. “Saat itulah saya minta istri berhenti bekerja. Saya ingin memuliakannya,” kata pria kelahiran 1972 itu.
Allah ternyata tahu batas kemampuan hamba-Nya. Saat kuliahnya terseok-seok, dikaruniai empat anak, rumah masih ngontrak, satu per satu pintu rezeki mulai terbuka. Ia bertemu kakak kelasnya semasa SMA yang saat itu bekerja di Indosiar. Lalu mengajaknya bergabung mengisi tayangan Embun Pagi Belajar Dari Kisah pada 2002. “Tahun berikutnya giliran Lativi menggaet saya untuk tayangan Gerebeg Sahur. Setelah itu, kesempatan berdakwah di televisi terus berlanjut sampai sekarang,” urainya seraya menyebut 2002-2003 sebagai tahun keemasannya dalam berdakwah.
2010 dirikan laboratorium Al-Quran
Masih banyak cita-cita pria yang menempuh strata duanya di bidang Politik Islam IAIA ini. Salah satunya, mengembangkan tiga program Majlis Dzikir Al-Ma’tsurat yakni merintis TK, yayasan dan pesantren kos. “Di pesantren kos, kami memberi kesempatan mahasiswa yang kos untuk belajar Al-Quran dan hadits,” ujarnya.
Sementara, program yayasan akan beroperasi layaknya laboratorium Al-Quran. Metode dakwah ini dikemas Subki dalam rangka merangkul masyarakat khususnya kaum remaja. Agar mereka mau, mampu menghafal dan memahami Al-Quran dan hadits. “Insya Allah, masyarakat dapat menikmati program laboratorium ini tahun depan,” pungkasnya.
Ratna Kartika
Hadits Arba’in Nomor 26, Bagian Kedua
Di antara kandungan ...
Dokter, bagaimana cara mengatasi kuku jempol kaki saya yang selalu tumbuh ...
oleh Ahmad Kusyairi Suhail
"..Dan pergaulilah istri-istri dengan baik ...
Assalamualaikum
Dok, bagaimana cara menghilangkan kantung di bawah mata yang menghitam? ...
Dulu tak banyak orang yang tahu apa manfaat dari mengonsumsi serat. Tetapi kini, serat menjadi ...
Assalamualaikum, Dok, apa sih ciri-ciri awal terserang kanker kulit? Apakah ini ...





Pengunjung hari ini : 143
Total pengunjung : 61962
Hits hari ini : 382
Total Hits : 216158
Pengunjung Online: 8Copyright Ummi-Online.com - 1 Januari 2010 / 14 Muharam 1431 H - All rights reserved