Tak mudah menjadi beda. Saya sempat mendapat protes dari buah hati ketika menerapkan berbagai kegiatan dan peraturan yang tidak biasa. Sampai suatu ketika si sulung mengutarakan uneg-unegnya. “Ibu kok nggak sama seperti ibu teman-temanku?” tanyanya yang saat itu masih duduk di bangku SMP.
Menurut dia, hampir semua ibu memberikan kebebasan kepada anak-anaknya. Teman-temannya tak mendapat peraturan dan pengawasan ketat seperti dirinya. Contohnya, nyaris semua teman di sekolah mendapat izin jalan-jalan kemana pun mereka suka. Sementara anak saya tak memiliki kebebasan itu. Mereka hanya boleh bepergian bersama teman-temannya untuk urusan penting. Izin itu pun tidak mudah mereka dapatkan.
Anak kami terpaksa iri dengan teman-temannya yang memiliki kebebasan menonton televisi dari pagi sampai malam hari. Berbeda sekali dengan kondisi di rumah. Nasib si 'kotak ajaib' itu tak leluasa menebarkan pesona. Soalnya, saya dan suami amat membatasi kegiatan anak-anak 'nongkrong' di depan televisi. Mereka hanya berkesempatan menonton televisi satu sampai dua jam sehari.
Selain itu, yang membuat kami berbeda terkait penggunaan telepon selular (ponsel). Tak seperti teman sekolahnya, orangtua mereka telah membekali mereka telepon selular. Sementara kedua anak kami harus menunggu kesempatan itu sampai jenjang SMA. Peraturan keluarga ini sempat membuat mereka minder. Namun, mereka belajar ikhlas setelah mendapat pengertian. Sebab, saya dan suami menilai fasilitas telepon pribadi banyak menyita waktu untuk hal yang kurang bermanfaat.
Jika ingin menikmati fasilitas tersebut, anak-anak harus menggunakan uang tabungannya. Harapannya, kelak anak kami bisa menghargai jerih payah orangtua mencari nafkah. Meski begitu, saya tetap menghargai keputusan orangtua yang membekali anaknya dengan fasilitas benda mini itu. Saya percaya semua keputusan orangtua diambil melalui pertimbangan yang matang.
Peraturan lainnya yang tak bisa ditawar adalah larangan berpacaran. Walau mereka sudah memahami ajaran Islam yang tidak membenarkan berpacaran, saya dan suami selalu mengingatkan sembari mengajak berdiskusi. Kami memberikan kepercayaan kepada mereka untuk tidak mengikuti tren ini. Kami memastikan akan sangat kecewa apabila mereka melanggar peraturan ini.
Saya melakukannya mengingat budaya pacaran di negeri kita sudah menjadi hal yang biasa, khususnya dalam pergaulan remaja. Apalagi setiap hari ada saja teman mereka yang memproklamirkan baru 'jadian' layaknya cerita sinetron remaja.
Ya, Ibu memang beda, Nak. Tapi yakinlah, Ibu berani menerapkan peraturan berbeda karena tahu yang terbaik untuk kalian. Kita tidak harus sama dengan orang lain karena belum tentu yang sama itu baik dan benar untuk diikuti. Percayalah, masih banyak orangtua yang berbeda seperti ibu. Meski terkesan kolot tapi berpandangan jauh ke depan. Ini demi kesucian dan kemuliaanmu di dunia menuju keselamatan di akhirat. Amin ya Rabbal Alamiin.
Esti Dewi Sutikanti
Ibu rumah tangga, di Sukolilo
Dokter, bagaimana cara mengatasi kuku jempol kaki saya yang selalu tumbuh ...
oleh Ahmad Kusyairi Suhail
"..Dan pergaulilah istri-istri dengan baik ...
Hadits Arba’in Nomor 26, Bagian Kedua
Di antara kandungan ...
Dulu tak banyak orang yang tahu apa manfaat dari mengonsumsi serat. Tetapi kini, serat menjadi ...
Dengan segala kelebihannya dibanding anak-anak lain – seperti memiliki ...
Bu, seorang teman saya yang seorang janda telah menikah lagi dengan seorang duda. ...





Pengunjung hari ini : 28
Total pengunjung : 14857
Hits hari ini : 87
Total Hits : 53013
Pengunjung Online: 6Copyright Ummi-Online.com - 1 Januari 2010 / 14 Muharam 1431 H - All rights reserved