Pagi itu saya bersama suami dan kedua anak saya, datang ke sebuah pengajian akbar yang diadakan di dekat kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Di lokasi acara, saya dan suami pun berpisah, suami duduk di tempat khusus laki-laki sedangkan saya bersama dua anak saya di tempat khusus perempuan. Beberapa lama setelah duduk mendengarkan, anak perempuan saya tertarik pada boneka yang dipajang tak jauh dari tempat duduk kami. Karena semakin rewel, jadilah kami berdua menuju kedai boneka.
Jumlah pengunjung yang sangat padat, tak pelak membuat kami saling bersenggolan dengan pengunjung lainnya. Saat itulah saya merasakan ada tangan seorang pemuda menyentuh tas saya. Tapi saya masih berbaik sangka, mungkin memang tak sengaja karena padatnya orang.
Setelah memilih beberapa saat, saya temukan boneka yang cocok untuk putri saya. Ketika akan membayar itulah baru saya sadari retsleting tas saya terbuka dan dompet saya sudah tidak ada alias hilang. Sedetik kemudian saya lihat pemuda yang tadi menyentuh tas saya. Entah kekuatan dari mana saya langsung berlari mengejar pemuda yang berjalan biasa saja itu—mungkin takut ketahuan jika ia berlari. Anak saya terpaksa saya titipkan pada penjual boneka.
Saya kejar pemuda itu, tertangkap dan langsung saya tarik bajunya sambil berteriak, ”Endi dompetku?!” (mana dompetku?!)
“Ngopo to mba? Aku ki ora nggowo dompetmu” (Ada apa mba? Aku tidak bawa dompetmu). Pemuda itu mengelak. Saya ulangi pertanyaan dengan nada yang lebih tinggi dan mendapatkan jawaban yang sama.
Saya mulai cemas telah salah tangkap, tapi saya tetap memegang dan menarik-narik bajunya. Sebenarnya peristiwa ini terjadi di tengah kerumunan orang, tapi tak satu pun yang datang untuk membantu saya dan menanyakan apa yang terjadi. Sejurus kemudian seakan ada yang menggerakkan, tangan kiri saya langsung mendarat di kerah baju si pemuda, mencekik lehernya, dan tangan kanan saya siap dengan kepalan. Persis seperti di film-film aksi yang saya tonton.
Alhamdulillah, mungkin karena tarikan tangan kiri saya yang kuat, dompet yang disembunyikan di dalam bajunya terjatuh. Orang-orang yang berada di sekitar kejadian dan melihat dompet saya terjatuh hanya berkata, “Lha kuwi dompete” (lha itu dompetnya). Ironisnya tak ada satu pun yang membawa pemuda yang terbukti mencopet itu ke kantor polisi.
Karena teringat anak saya yang saya titipkan di penjual boneka, segera saya lepas cengkeraman tangan saya dan mengambil dompet sambil mengusir pencopet itu.
Beberapa saat setelah kejadian itu saya berpikir dari mana keberanian dan kekuatan saya untuk melawan pencopet itu. Padahal saya termasuk perempuan penakut, malam-malam jika ingin ke kamar mandi saja pasti minta ditemani suami. Tapi saya yakin keberanian dan kekuatan itu datangnya dari Allah.
Saya tidak menyesal menjadi sasaran pencopet, toh akhirnya pencopet itu yang 'kalah'. Saya hanya menyesalkan kenapa tidak ada orang yang peduli dan tergerak hatinya untuk membantu? Bagaimana jika yang menjadi korban itu saudara perempuan atau bahkan ibu mereka? Entahlah. Tapi yang pasti saya setuju kalau perempuan juga harus memiliki kekuatan fisik, sehingga bisa membela dirinya sendiri.
Latifah HS, Sragen, Jawa Tengah
Hadits Arba’in Nomor 26, Bagian Kedua
Di antara kandungan ...
Dokter, bagaimana cara mengatasi kuku jempol kaki saya yang selalu tumbuh ...
oleh Ahmad Kusyairi Suhail
"..Dan pergaulilah istri-istri dengan baik ...
Assalamualaikum
Dok, bagaimana cara menghilangkan kantung di bawah mata yang menghitam? ...
Dulu tak banyak orang yang tahu apa manfaat dari mengonsumsi serat. Tetapi kini, serat menjadi ...
Assalamualaikum, Dok, apa sih ciri-ciri awal terserang kanker kulit? Apakah ini ...





Pengunjung hari ini : 144
Total pengunjung : 61963
Hits hari ini : 409
Total Hits : 216185
Pengunjung Online: 7Copyright Ummi-Online.com - 1 Januari 2010 / 14 Muharam 1431 H - All rights reserved