Siapa bilang hanya laki-laki yang bisa jadi pemimpin hebat? Banyak juga perempuan yang mampu jadi pemimpin luar biasa tanpa meninggalkan urusan rumah dan keluarganya. Emmy Hamidiyah, salah satunya. Pengalamannya berkiprah dalam bidang Pemberdayaan Masyarakat menghantarkannya menjadi Direktur Eksekutif Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).
Apa kesamaan Emmy Hamidiyah dan Taufik Ismail? Mereka sama-sama lulusan kedokteran hewan tapi tidak melanjutkan profesi sebagai dokter hewan. Sebagaimana Taufik yang memilih dunia seni sebagai profesi yang digelutinya, Emmy juga memilih berkiprah di dunia pemberdayaan masyarakat, bidang yang dicintainya sejak masih belia.
“Sejak kecil, seingat saya, memang saya ingin mengabdi ke masyarakat. Bayangan saya tentang bekerja ya bekerja di masyarakat. (Bahkan) kenapa saya masuk Kedokteran Hewan di IPB juga karena pekerjaannya adalah memberi penyuluhan pada para peternak, tentang bagaimana mengurus hewan dengan baik yang artinya kerja di masyarakat juga. Hanya saja saat masih kecil itu saya tidak terbayang, mau berprofesi sebagai apa. Tapi saya memang suka mengabdi pada masyarakat,” ungkap Emmy.
Kecintaan Emmy pada dunia pemberdayaan masyarakat rupanya 'turunan' dari ayah dan ibunya. “Ayah saya ulama, di Magetan, Jawa Timur. Beliau juga anggota dewan di DPRD Jawa Timur. Ibu saya juga banyak aktivitas, semacam aktivis-lah di masyarakat. Sejak kecil memang kami terbiasa dengan kehidupan di masyarakat. Jadi bapak itu membangun sekolah-sekolah, beberapa mushala dan mesjid. Ibu saya juga sibuk mengurusi pengajian, segala macam. Yang namanya anak-anak asuh yang tinggal di rumah itu banyak sekali, sampai sekarang. Memang hidupnya dari dulu juga begitu. Akhirnya sudah terbiasa. Kita tidak pernah terpikir untuk aktif di dunia bisnis misalnya atau yang lain,” ujar anak kelima dari 9 bersaudara ini.
Lulus kuliah tahun 1988, Emmy memilih jadi dosen dan buka praktik sebagai dokter hewan. Baru setahun praktik, di tahun 1989, terjadi booming bank. Banyak bank bermunculan termasuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Saat itulah Emmy tertarik pindah ke Jakarta dan bekerja di sebuah BPR sampai tahun 1994 sampai ketika berdiri bank syariah pertama, Muamalat, Emmy pindah ke sana.
“Di Bank Muamalat pun pekerjaan saya adalah mengurusi pemberdayaan usaha mikro (usaha kecil dan menengah). Selain mengurusi pembiayaan untuk usaha kecil juga membentuk lembaga zakat. Sebab kalau di bank syariah, kan selain terdapat unit bisnis, ada juga misi sosialnya,” jelas ibu 3 anak ini.
Baznas Kelola Zakat dengan Profesional
Pada tahun 1999, berdiri BUMN baru yang bernama PNM (Permodalan Nasional Madani) yang bergerak di dunia usaha kecil. “Dari Muamalat saya pun pindah ke PNM yang mengelola pembiayaan dan jasa manajemen untuk usaha kecil dan menengah. Jasa manajemen itu bertugas memberikan semacam binaan teknis, kepada perusahaan supaya dia bisa lebih berkembang,” terang istri dari Irfan Hasan ini.
Tahun 2001 Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) didirikan. Berhubung BAZNAS masih lembaga baru, salah seorang pengurus BAZNAS yang juga direktur PNM mengusulkan agar BAZNAS mendapat jasa manajemen dari PNM. Tujuannya adalah untuk membangun sistem pengumpulan dan penyaluran zakat sehingga zakat bisa dikelola dengan profesional. Emmy-lah yang diberi tugas untuk menangani hal itu. Maka terhitung sejak tahun 2002 Emmy resmi bekerja di BAZNAS.
Masalah pengelolaan zakat memang bukan perkara mudah. Meskipun 88% penduduk Indonesia beragama Islam, namun belum banyak yang dengan konsisten mengeluarkan zakat. Sebagian besar dari orang yang mengeluarkan zakat (muzakki) juga langsung menyalurkan pada penerima zakat (mustahik).
Sebetulnya tidak ada yang salah dengan hal itu. Namun penyaluran zakat secara langsung jarang membawa perubahan yang berarti dalam mengatasi masalah ekonomi masyarakat.
“Jadi pada tahap awal kami menyosialisasikan kepada masyarakat, agar zakat itu bisa mengentaskan kemiskinan dan memberikan kesejahteraan ya harus dikelola secara profesional. Pada zaman Rasulullah saja zakat juga dikelola langsung oleh pemerintah (negara). Rasulullah sebagai khalifah mengutus para petugasnya untuk mengambil zakat lalu menyalurkannya. Dengan cara itu, zakat bisa dikelola dengan baik,” terang wanita yang murah senyum ini.
Persoalannya, sebagian masyarakat banyak yang tidak percaya alias tidak yakin kalau zakatnya akan sampai pada mustahik jika disalurkan lewat lembaga pengelola zakat. Padahal saat ini BAZNAS dan banyak lembaga pengelola zakat yang lain sudah mengelola zakat dengan modern dan profesional –termasuk dengan rutin melakukan audit melalui lembaga independen dan memberikan laporan terbuka pada masyarakat- hingga tidak ada alasan untuk tidak percaya.
Dengan manajemen seperti manajemen perusahaan, diharapkan zakat tidak hanya bisa memberi makan satu atau dua keluarga namun dalam jangka panjang bisa membawa perubahan yang lebih baik.
Baznas sendiri memiliki 5 program pengelolaan zakat. Pertama, Indonesia Peduli, yakni program untuk memberikan bantuan pada orang-orang yang terkena bencana atau musibah. Sifatnya mendadak dan mendesak hingga harus segera diberikan.
Kedua, Indonesia Cerdas, yaitu program pendidikan. Bantuan beasiswa diberikan mulai dari SD sampai Perguruan Tinggi (PT). Di PT ada program SKSS, Satu Keluarga Satu Sarjana. Maksudnya jika ada anak yang diterima di PT sedang dia tidak mampu, BAZNAS akan mengajukan pada universitasnya untuk membebaskan biaya masuknya. Lalu setiap semester SPP-nya ditanggung oleh BAZNAS. Tapi syaratnya, dalam keluarga anak itu belum ada sarjananya. Dan jika dia anak daerah, nantinya harus bersedia kembali ke daerah. Selain itu BAZNAS juga memberikan bantuan ke sekolah-sekolah gratis yang saat ini banyak didirikan.
Ketiga, Indonesia Sehat, adalah bantuan kesehatan, baik berupa bantuan pembiayaan, maupun berupa fasilitas, misalnya unit kesehatan keliling dan posko kesehatan di masjid Sunda Kelapa. Keempat, Indonesia Makmur, adalah program pemberdayaan ekonomi. Berupa bantuan modal kerja dan pendampingan ke desa makmur, kampung nelayan makmur, pemberdayaan perempuan dan pemberdayaan usaha kecil. Terakhir, Program Indonesia Taqwa, yaitu program dakwah berupa kaderisasi ulama.
Menurut Emmy, memang ada perbedaan prioritas penyaluran antara zakat, infaq dan shadaqah. Kalau zakat sebaiknya disalurkan ke lembaga sesuai yang dicontohkan Rasulullah. Namun kalau infaq dan shadaqah, lebih baik jika disalurkan pada orang terdekat, misalnya kerabat, tetangga dan teman. Karena zakat itu hitungannya harus jelas, hartanya berapa, sudah sampai nisab (batas minimal seseorang wajib zakat) atau belum, jumlah zakatnya berapa, waktu kapan, semua harus sesuai dengan aturan Islam.
“Dan kami selalu menyatakan tidak cukup berzakat, kalau anda baru berzakat, itu belum orang baik, baru orang biasa, baru orang Islam. Karena berzakat itu rukun Islam. Tapi kalau sudah berinfaq, shadaqah, itu baru baik. Kadang orang sudah memberi ke pengemis, apakah itu berarti dia sudah berzakat? Jawabannya adalah belum. Itu baru sedekah. Zakat kan harus dihitung. Ada juga yang tanya, boleh nggak zakat saya berikan pada pembantu saya atau supir saya. Saya jawab, pembantu kok dikasih zakat, pembantu ya digaji, kalau kurang ya dibantu lagi. Pembantu itu kan tanggungan kita. Ada juga yang tanya, boleh nggak zakat kepada guru ngaji saya? Saya bilang, Anda itu, les bahasa Inggris saja bayarnya 500 ribu sebulan, masak guru ngaji dikasih zakat, harusnya dibayar 500 ribu sebulan juga kan.”
Shalat, Pilar Kesuksesan
Bekerja di sektor pemberdayaan masyarakat bukan hal yang mudah. Dibutuhkan keterampilan khusus untuk menilai apa potensi yang bisa dikembangkan pada diri seseorang. Dibutuhkan juga kesabaran, ketelatenan sekaligus kepiawaian memilih model pendampingan yang tepat sehingga orang yang dibantu tidak malah bergantung pada lembaga yang membantunya. Untunglah keterampilan dan kepiawaian ini ada dalam diri Emmy. Kiprahnya selama bertahun tahun dari satu lembaga ke lembaga lain memberikan keterampilan khusus yang akhirnya sangat bermanfaat ketika Emmy diserahi amanah mengelola BAZNAS.
Lalu apa resep Emmy untuk jadi orang yang sukses? Ternyata didikan dari orangtua Emmy berpengaruh besar pada kesuksesannya saat ini. “Pendidikan yang selalu ditekankan bapak saya cuma satu, yaitu shalat dan shalat berjamaah itu wajib. Dari kecil kami selalu shalat berjamaah di masjid dekat rumah. Jadi kita sudah terbiasa yang namanya bangun jam 4, sampai Subuh. Kemudian terserah kita mau apa saja, tidak pernah ditanya sudah belajar apa belum, yang ditanya cuma sudah shalat apa belum.”
Begitu pula ketika masuk waktu Maghrib sampai Isya, kenang Emmy, mereka tidak turun dari masjid, karena habis shalat Maghrib itu mereka rutin shalat sunah dan mengaji, sampai Isya. Usai sekolah Emmy dan saudara-saudaranya bergegas pulang untuk shalat Dzuhur, meski bapak atau ibu tidak ada di rumah, dan selalu ada yang mengimami. Kalau pun mau pergi main, yang jelas mereka harus sudah Dzuhur dan ketika waktu Ashar tiba mereka sudah wajib ada di rumah lagi.
“Ayah saya sibuk. Ibu saya pun orangnya sibuk tapi beliau sangat perhatian. Beliau punya toko di pasar, mengurus banyak hal, tapi masih bisa menangani sendiri kebutuhan bapak dan anak-anaknya. Memang ada pembantu tapi semua masih terkonsentrasi pada ibu. Alhamdulillah anak-anaknya 'jadi' semuanya, minimal tidak ada yang merepotkan,” cerita Emmy.
Dari 9 bersaudara ini, 4 perempuan dan 5 laki-laki, kini menggeluti berbagai macam profesi. Zaim Uchrowi, kakak Emmy nomor dua adalah Direktur Utama Balai Pustaka yang tulisan-tulisannya kerap tersebar di berbagai media massa.
Adik lelakinya ada yang jadi wartawan, adiknya yang lain ada yang menjadi model dan banyak ragam lain. Meski demikian sang ibu tak kesepian karena sampai sekarang pun ibunda Emmy masih tinggal dengan anak-anak asuh.
“Makanya ibu itu kalau pergi sebentar saja sudah kepikiran, nanti anak-anak siapa yang mengurus. Jadi beliau itu lebih banyak memikirkan orang lain. Makanya yang teringat dari ibu, ya beliau itu orangnya tangguh, dengan bapak yang begitu sibuk dan padat aktivitas, tapi beliau bisa mengurus semuanya sendirian. Itu yang menurut saya hebat,” tambah master dari Pasca Sarjana Program Studi Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (PSTTI UI) jurusan Ekonomi dan Keuangan Syariah ini.
Berkaca dari orangtuanya yang hebat dalam manajeman waktu, Emmy menerapkan pula dalam kesehariannya. “Saya punya motto hidup, ingin menjadi orang yang terbaik di bidang apa pun. Mungkin Ummi bisa tanya ke teman-teman kantor, saya hampir tidak pernah membolos dan tidak pernah izin, kecuali memang betul-betul ada sesuatu yang penting. Di kantor pun tidak pernah kemana-mana. Habis makan siang saya balik lagi ke kantor. Artinya saya ingin memberikan yang terbaik untuk pekerjaan saya. Dari sisi absen yang terbaik, dari sisi pekerjaan yang terbaik. Di rumah pun berusaha, anak-anak jadi yang terbaik. Ya walaupun mungkin tidak bisa sempurna, tapi kita selalu berupaya berbuat yang terbaik,” kata ibu dari Luthfia Dinana, M.Fikri Hafiya dan Alifa Rahma Rizqina.
Aini Firdaus/wawancara: Rosita
Hadits Arba’in Nomor 26, Bagian Kedua
Di antara kandungan ...
Dokter, bagaimana cara mengatasi kuku jempol kaki saya yang selalu tumbuh ...
oleh Ahmad Kusyairi Suhail
"..Dan pergaulilah istri-istri dengan baik ...
Assalamualaikum
Dok, bagaimana cara menghilangkan kantung di bawah mata yang menghitam? ...
Dulu tak banyak orang yang tahu apa manfaat dari mengonsumsi serat. Tetapi kini, serat menjadi ...
Assalamualaikum, Dok, apa sih ciri-ciri awal terserang kanker kulit? Apakah ini ...





Pengunjung hari ini : 143
Total pengunjung : 61962
Hits hari ini : 385
Total Hits : 216161
Pengunjung Online: 8Copyright Ummi-Online.com - 1 Januari 2010 / 14 Muharam 1431 H - All rights reserved