Majalah Ummi Digital - Ummi: Identitas Wanita Islami

Kamis, 31 Desember 2009 - 15:11:03 WIB
Takbir di Tengah Pasar
Edisi : No.6 Tahun XXI | Rubrik: Nuansa Kehidupan | Dibaca: 506 kali

Setiap orangtua pasti menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang shalih dan salehah. Begitu juga saya. Saya menyadari betul bahwa keshalihan seseorang tidak secara otomatis tumbuh sejak lahir, tetapi butuh proses dengan pendidikan dan pengajaran yang Islami.

Maka mulailah saya dan suami membimbing Faqih, putra kami yang baru berusia dua tahun kala itu. Mulai dari membiasakannya mengucap salam, membaca lafadz basmalah, dan berdoa. Tak lupa, mengajar Faqih berkata santun, hormat kepada orangtua, menjauhkannya dari televisi hingga mengajaknya ke acara atau aktivitas yang sering saya dan suami ikuti. Karenanya, Faqih tak asing lagi dengan pengajian, rapat, bahkan demo menentang kebijakan Amerika terhadap Palestina, atau demo-demo yang menyuarakan kepentingan umat Islam lainnya.

Bagi kami, mengajak anak untuk berdemo di jalan bukan untuk mengeksploitasi anak atau membuatnya sengsara seperti yang dituduhkan sebagian orang. Ini kami lakukan dengan harapan Faqih menjadi mujahid yang berani. Minimal ia tidak takut saat berada di keramaian.

Lama kelamaan, buah dari 'keikutsertaannya' berdemo mulai terlihat hasilnya. Setiap ada acara kumpul keluarga, Faqih berteriak-teriak menggemakan “Allahu Akbar” dengan suara cadelnya yang khas itu. Mungkin dalam benaknya dia berada dalam suasana demo karena ramainya arisan keluarga. Seketika, suasana jadi riuh rendah kalau dia mulai bertakbir. Kerabat kami pun terheran-heran sekaligus kagum dan geli melihat jundi kesayangan kami. Sedangkan Faqih, ia seakan tak terpengaruh dengan semua tatapan dan komentar dari sanak saudara, ia tetap mengepalkan tangan dan bertakbir berkali-kali.

Suatu hari, saya berbelanja ke pasar dekat rumah dan Faqih terpaksa ikut karena tak ada yang menjaganya. Ini adalah kali pertama Faqih pergi ke pasar. Sebelumnya saya memang tidak pernah mengajak Faqih ke pasar karena berbagai alasan, salah satunya tidak mengajarkan budaya konsumtif kepadanya.

Kami berdua menggunakan kendaraan umum menuju pasar yang hanya berjarak 10 menit dari rumah kami. Selama perjalanan, Faqih terlihat menikmati dan tidak rewel sama sekali. Tapi saya masih sedikit khawatir, jangan-jangan ketika sampai pasar ia akan minta di belikan mainan, atau anak ayam yang disemprot pewarna merah dan hijau. Alhamdulillah, setelah sampai dan melewati kios itu, Faqih tetap kalem dan tak meminta apapun.

Namanya juga pasar, tentu dipadati oleh orang yang melakukan transaksi jual beli, apalagi di kios sayur mayur yang dipadati oleh ibu-ibu. Faqih mulai bergerak-gerak dalam gendonganku dan seketika teriakan “Allahu Akbar, Allahu Akbar” pun terdengar. Faqih mulai bertakbir sambil mengepalkan tangannya. Orang-orang mulai melihat ke arah kami dan saya hanya tersenyum canggung sambil berusaha menenangkan Faqih. Demi menghindari tatapan dari orang-orang di pasar, saya melangkah menjauh. Ah, Fatih... gembira rasanya melihat Faqih yang dengan ceria meneriakkan Allahu Akbar, sekalipun ia bermandikan peluh. Illahi, jadikan ia anak yang shalih.

Eni Kusumawati, Jagakarsa, Jakarta Selatan


Buat link artikel ini pada:

Artikel Sebelumnya
    0 Komentar :

    Isi Komentar :
    Nama :
    Website :
    Komentar :
     
     (Masukkan 6 kode diatas)

     

    Iklan

    Ummi Terbaru

    Majalah Ummi di Facebook

    ShoutMix chat widget
    Pengunjung

    216148

    Pengunjung hari ini : 143
    Total pengunjung : 61962

    Hits hari ini : 372
    Total Hits : 216148

    Pengunjung Online: 10